Polisi Tangkap 100 Orang Usai Kerusuhan Pecah di Barcelona

Kerusuhan yang terjadi di Barcelona usai demonstrasi massa. Foto: Viory

Polisi Tangkap 100 Orang Usai Kerusuhan Pecah di Barcelona

Fajar Nugraha • 25 October 2026 16:35

Barcelona: Polisi menangkap sekitar 100 orang setelah bentrokan pecah dalam aksi demonstrasi pemuda yang menentang kemapanan tanpa izin di pusat kota Barcelona, Spanyol, pada Sabtu 24 Oktober 2026.

Kerusuhan tersebut diwarnai pembakaran dan penjarahan toko-toko di sekitar Plaça de Catalunya.

Mengutip Viory, rekaman video memperlihatkan barikade dan sepeda yang terbakar, sejumlah orang memecahkan pintu kaca dan memasuki sebuah toko, serta petugas pemadam kebakaran yang berupaya memadamkan api.

Sementara itu, polisi antihuru-hara menangkap sejumlah orang ketika kerumunan massa berlarian melewati jalanan yang dipenuhi puing-puing.

Menteri Dalam Negeri Katalonia Nuria Parlon mengatakan sekitar seperempat dari orang-orang yang ditangkap merupakan anak di bawah umur. Lebih dari 30 titik kebakaran dilaporkan terjadi, sementara 14 toko dirusak atau dijarah selama kerusuhan.



Aksi tersebut dipromosikan melalui media sosial dengan slogan-slogan antikemapanan, termasuk “Instituts Indignats” atau “Sekolah Menengah yang Geram”, yang menggemakan gerakan protes mahasiswa di Prancis.

Menurut kepolisian Katalonia, demonstran bertopeng melemparkan batu dan benda-benda lain ke arah petugas, membakar tempat sampah, serta mendirikan barikade darurat.

Pihak berwenang menutup sejumlah jalan di sekitar Plaça de Catalunya ketika kerusuhan meluas ke jalan-jalan terdekat. Situasi tersebut memaksa sejumlah pelaku usaha menutup toko mereka.

“Pihak yang bertanggung jawab atas kerusuhan akan menghadapi konsekuensi hukum, yang berpotensi mencakup wali atau orang tua dari anak di bawah umur yang terlibat,” ujar Wali Kota Barcelona Jaume Collboni, seperti dikutip dari Viory, Minggu 25 Oktober 2026.



Kerusuhan terjadi di dekat sebuah kamp protes yang menuntut langkah konkret untuk mengatasi tingginya biaya perumahan. Namun, pihak berwenang menegaskan bahwa aksi kekerasan tersebut tidak berkaitan dengan gerakan protes mengenai perumahan.

Bentrokan itu terjadi di tengah gelombang demonstrasi yang lebih luas di berbagai negara Eropa, termasuk Prancis, Italia, Belgia, dan Portugal. Aksi-aksi tersebut mengangkat beragam persoalan, mulai dari pendanaan pendidikan dan kenaikan biaya hidup hingga perumahan dan layanan publik.

(Razaqa Hariz)

(Fajar Nugraha)