Musim Hujan di Jabar Mundur hingga Desember, BMKG Ungkap Penyebabnya

Ilustrasi cuaca. Foto: Medcom.id.

Musim Hujan di Jabar Mundur hingga Desember, BMKG Ungkap Penyebabnya

Roni Kurniawan • 2 October 2026 10:51

Bandung: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Jawa Barat datang lebih lambat dibandingkan pola normal. Puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Februari 2027, dengan durasi yang cenderung lebih singkat dibandingkan rata-rata klimatologis.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat Rakhmat Prasetia mengatakan hasil analisis iklim terbaru BMKG menunjukkan awal musim hujan di Jawa Barat diperkirakan berlangsung secara bertahap mulai Oktober hingga Desember 2026.

"Secara umum awal musim hujan di wilayah Jawa Barat diprediksi terjadi pada Oktober hingga Desember 2026, dengan sifat hujan dominan berada pada kategori normal," ujar Rakhmat dalam keterangannya melalui Zoom Meeting, seperti dilansir Antara, Jumat, 2 Oktober 2026.

Rakhmat menjelaskan Jawa Barat memiliki 41 Zona Musim (ZOM) dengan karakteristik awal musim hujan yang berbeda. Dari jumlah tersebut, 20 ZOM diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Kemudian, 10 ZOM diprakirakan mengalami awal musim hujan pada Oktober 2026, sedangkan 10 ZOM lainnya baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

"Satu zona musim lainnya memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun," lanjut Rakhmat.
 


Secara keseluruhan, sebanyak 39 ZOM atau sekitar 95,2 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991-2020. Sementara itu, hanya satu ZOM yang diprakirakan memasuki musim hujan sesuai kondisi normal. Satu ZOM lainnya memiliki pola hujan sepanjang tahun.

Rakhmat menjelaskan keterlambatan awal musim hujan tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer global. Salah satu faktor yang masih memberikan pengaruh kuat ialah fenomena El Niño.

"Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global yang masih menunjukkan pengaruh kuat fenomena El Niño. Berdasarkan pemantauan hingga Agustus 2026, ENSO berada pada fase El Niño sangat kuat dan diperkirakan masih berlangsung hingga awal tahun depan," beber Rakhmat.

Selain El Niño, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) turut menjadi perhatian. Rakhmat menyebut IOD diprediksi berada dalam fase positif hingga akhir 2026. Kombinasi kedua fenomena tersebut berkontribusi terhadap mundurnya awal musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

Meski awal musim hujan diprediksi mundur, BMKG memperkirakan karakteristik curah hujan selama musim hujan 2026/2027 secara umum masih berada dalam kategori normal.


Ilustrasi cuaca. Foto: Medcom.id.

Dari 41 ZOM di Jawa Barat, sebanyak 37 ZOM atau sekitar 90,3 persen diprediksi mengalami curah hujan kategori normal. Sementara itu, tiga ZOM diperkirakan berada dalam kategori bawah normal dan satu ZOM berada pada kategori atas normal.

Kondisi tersebut menjadi salah satu informasi penting dalam menghadapi periode musim hujan mendatang, terutama bagi wilayah yang memiliki aktivitas pertanian dan pengelolaan sumber daya air.

BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Barat mencapai puncak musim hujan pada Februari 2027. Sebanyak 29 ZOM atau sekitar 70,8 persen wilayah diprediksi mengalami puncak musim hujan pada bulan tersebut. Adapun 10 ZOM lainnya diprakirakan mencapai puncak musim hujan pada Maret 2027.

Dengan pola tersebut, pemerintah daerah dan masyarakat perlu memperhatikan perkembangan informasi iklim untuk menyesuaikan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kondisi cuaca dan curah hujan.

Rakhmat juga mengingatkan pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta masyarakat untuk menjadikan informasi prakiraan musim sebagai bahan perencanaan dan upaya mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

"Informasi prediksi musim dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan langkah antisipasi dalam pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, serta perencanaan kegiatan pertanian," beber Rakhmat.

Selain memperkirakan waktu datangnya musim hujan, BMKG memproyeksikan durasi musim hujan 2026/2027 di Jawa Barat cenderung lebih pendek dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 40 dari 41 ZOM diprediksi mengalami musim hujan dengan durasi lebih singkat dibandingkan rata-rata klimatologis.

Kondisi tersebut membuat pemantauan perkembangan cuaca dan iklim tetap diperlukan, terutama menjelang dan selama berlangsungnya musim hujan.

"Masyarakat diimbau juga untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim resmi yang dikeluarkan BMKG guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama periode musim hujan mendatang," ungkap Rakhmat.

(Whisnu M)