Ilustrasi. Foto: Dok MI
BPS: Neraca Perdagangan Surplus USD10,61 Miliar hingga September 2026
Ihfa Firdausya • 2 November 2026 12:49
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan kumulatif periode Januari-September 2026 masih mengalami surplus USD10,61 miliar. Capaian itu juga didukung didukung oleh surplus pada September 2026 sebesar USD3,36 miliar.
“Surplus sepanjang periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus US$34,21 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD23,60 miliar,” jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 2 November 2026.
Ekspor naik 5,58%
Neraca perdagangan periode tersebut didukung nilai ekspor kumulatif Januari–September 2026 yang mencapai USD221,23 miliar, naik 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 6,30 persen menjadi USD212,27 miliar."Berdasarkan sektor, industri pengolahan mencatat nilai ekspor terbesar, dengan nilai mencapai USD182,83 miliar atau naik 8,93 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025," ungkap Ateng.
Selanjutnya, tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok sebesar USD54,17 miliar (25,52 persen), Amerika Serikat sebesar USD25,39 miliar (11,96 persen), dan India sebesar USD15,00 miliar (7,07 persen).
Baca Juga :
Harga Cabai Jadi Penyumbang Inflasi Oktober 2026
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Impor naik 19,67 persen
Sementara itu, nilai impor kumulatif Januari–September 2026 mencapai USD210,63 miliar, naik 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut berasal dari impor nonmigas yang naik 16,92 persen menjadi USD178,06 miliar, serta impor migas yang naik 37,35 persen menjadi USD32,57 miliar.Menurut penggunaan, impor Indonesia didominasi oleh impor bahan baku/penolong dengan nilai USD150,57 miliar atau naik 21,11 persen. Selanjutnya, impor barang modal mencapai USD41,55 miliar, naik 16,49 persen, sedangkan impor barang konsumsi tercatat sebesar USD18,51 miliar, naik 15,54 persen.
"Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–September 2026, dengan nilai USD76,16 miliar (42,77 persen). Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang sebesar USD10,04 miliar (5,64 persen), dan Australia sebesar USD8,07 miliar (4,53 persen)," jelasnya.
Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas pada periode Januari–September 2026 terutama berasal dari beberapa komoditas utama. Pertama, lemak dan minyak hewani/nabati sebesar USD29,31 miliar. Kemudian diikuti bahan bakar mineral USD21,42 miliar, besi dan baja USD13,95 miliar, nikel dan barang daripadanya USD9,52 miliar, serta alas kaki USD4,86 miliar.