Trump Bersedia Terima Hasil Pemilu Paruh Waktu AS jika Berlangsung Jujur

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. The New York Times

Trump Bersedia Terima Hasil Pemilu Paruh Waktu AS jika Berlangsung Jujur

Muhammad Reyhansyah • 28 October 2026 12:41

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan menghormati hasil pemilihan paruh waktu AS jika pemilu berlangsung jujur. 

Pernyataan tersebut disampaikan, Selasa, 27 Oktober 2026, di tengah kekhawatiran Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres dalam pemungutan suara pekan depan.

Trump kembali mengangkat klaim mengenai dugaan kecurangan pemilu yang selama bertahun-tahun ia sampaikan tanpa bukti yang mendukung tuduhan kecurangan massal. Sementara itu, sejumlah jajak pendapat menunjukkan Partai Republik berpotensi kehilangan kendali atas Kongres.

"Saya akan menghormatinya jika pemilunya jujur," kata Trump kepada wartawan ketika ditanya apakah dirinya akan menerima hasil pemilihan paruh waktu. Pernyataan itu disampaikan saat ia bersiap melakukan perjalanan kampanye ke Texas.

Trump yang berusia 80 tahun juga memberikan sinyal bersyarat mengenai kemungkinan bekerja sama dengan Partai Demokrat jika Partai Republik kehilangan kendali atas DPR dan Senat.

"Kita akan mencari jalan. Saya memiliki hak veto yang kuat. Saya berharap hal itu tidak terjadi, tetapi jika memang terjadi, situasi seperti itu pernah dialami banyak presiden sebelumnya," kata Trump di Pangkalan Gabungan Andrews, dekat Washington.

"Anda memiliki hak veto yang kuat, dan pada akhirnya Anda akan membuat kesepakatan," tambahnya, dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 28 Oktober 2026.

Persaingan Kongres Memanas

Partai Republik khawatir menghadapi gelombang dukungan bagi Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu karena para pemilih menghukum mereka atas inflasi yang dipicu oleh harga minyak yang melonjak sejak Trump melancarkan perang terhadap Iran.

Selama sebulan terakhir, Trump menggelar kampanye hampir setiap hari di berbagai wilayah AS untuk meningkatkan partisipasi pendukungnya, terutama basis gerakan MAGA. Ia menyatakan dirinya merupakan satu-satunya tokoh yang mampu mencegah kekalahan Partai Republik.

Kunjungan Trump ke Texas pada Selasa menjadi kunjungan ketiganya ke negara bagian tersebut dalam sebulan terakhir. Persaingan pemilihan Senat di Texas menjadi salah satu perhatian karena jajak pendapat menunjukkan pertarungan ketat di negara bagian yang selama lebih dari 30 tahun dikenal sebagai basis kuat Partai Republik.

Dalam kunjungan itu, Trump juga mengatakan akan menerima "hadiah" dari Venezuela berupa sebuah kapal tanker yang membawa satu juta barel minyak. Pemimpin Venezuela Nicolas Maduro sebelumnya dilengserkan dalam operasi militer AS pada Januari.

Trump akan didampingi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang dikenal memiliki sikap keras terhadap Amerika Latin. Kehadiran Rubio dalam kampanye tersebut terbilang jarang menjelang pemilihan presiden 2028, ketika namanya dipandang sejumlah pihak berpotensi muncul sebagai kandidat.

Trump Kembali Singgung Kecurangan

Dalam beberapa hari terakhir, Trump kembali meningkatkan tuduhan mengenai kecurangan pemilih, isu yang terus disuarakannya sejak kalah dalam pemilihan presiden 2020 dari Joe Biden.

Setelah kekalahan tersebut, Trump memobilisasi para pendukungnya yang kemudian menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 untuk berupaya menghentikan pengesahan akhir hasil pemilu.

Sejumlah pengkritik kini khawatir Trump sedang membangun dasar untuk menggugat hasil pemilihan paruh waktu atau bahkan memberlakukan bentuk kewenangan darurat.

Pada Senin, Trump menawarkan hadiah uang tunai sebesar USD1 juta bagi siapa pun yang memiliki informasi yang dapat mengarah pada vonis dalam kasus kecurangan pemilih.

(Fajar Nugraha)