Pemerintahan Iran masih tetap berdiri teguh meskipun diserangan AS dan Israel. Foto: Anadolu
Diplomasi dengan AS Gagal, Iran Ancam Lancarkan Serangan Baru
Riza Aslam Khaeron • 18 August 2026 14:41
Jakarta: Iran akan beralih ke postur militer yang sepenuhnya ofensif karena upaya negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen dengan Amerika Serikat (AS) menemui jalan buntu.
Mengutip CNA, hal tersebut disampaikan oleh seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada Senin, 17 Agustus 2026, di tengah penolakan Washington untuk memperpanjang perjanjian gencatan senjata sementara.
Kemajuan menuju perundingan damai dan pembukaan kembali jalur kapal tanker minyak di Selat Hormuz yang strategis kini terhenti.
Kondisi ini mengancam akan memperpanjang konflik yang dipicu oleh serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
"Entitas Iran harus siap untuk meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan wilayah yang lebih luas, karena Iran siap mengambil keputusan dan tindakan sulit," ujar pejabat Iran tersebut. Ia menambahkan bahwa Teheran akan melancarkan serangan militer yang tepat waktu dan presisi untuk mematahkan blokade laut AS jika jalur diplomasi gagal.
Trump Tolak Perpanjang MoU

Bendera Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu Agency)
Nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 untuk mengakhiri perang memberikan batas waktu hingga Senin bagi Iran dan AS untuk mencapai kesepakatan damai final.
Nota tersebut menetapkan kerangka waktu 60 hari untuk menyepakati isu program nuklir Iran dan sanksi AS.
Kesepakatan yang mencakup poin penghentian operasi militer secara segera dan permanen di semua lini tersebut gagal akibat perselisihan mengenai pengawasan Selat Hormuz, jalur air sempit yang dilalui 1/5 pasokan minyak global dan gas alam cair (LNG) sebelum perang pecah.
Saat ditanya oleh wartawan pada Senin mengenai kemungkinan AS memperpanjang kesepakatan sementara bulan Juni tersebut, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan melakukannya.
Di tengah hambatan diplomasi, laporan media menyebutkan bahwa Trump membuka jalur komunikasi belakang dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), pihak yang pengaruhnya semakin kuat selama perang serta menguasai sebagian besar angkatan bersenjata dan perekonomian Iran.
Axios, mengutip 2 sumber yang mengetahui informasi tersebut, melaporkan bahwa mantan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard telah berbicara dengan seorang pemimpin Kurdi Irak yang memiliki hubungan dekat dengan IRGC.
Melalui perantara ini, AS menyampaikan pesan kepada komandan IRGC, Jenderal Ahmad Vahidi. Fox News kemudian melaporkan bahwa Trump mengonfirmasi laporan tersebut dalam sebuah wawancara telepon.
"Saya tidak bisa merinci detailnya, tetapi percakapan antara pemerintah AS dan berbagai pihak di pemerintahan Iran saat ini mungkin merupakan yang paling intens dibandingkan sebelumnya," kata Jared Kushner, menantu Trump sekaligus utusan khusus, dalam wawancara terpisah dengan Fox News Channel pada Senin.
Iran menyatakan bahwa poin ke-5 dalam Nota Kesepahaman memberikannya hak untuk mengelola Selat Hormuz yang berbatasan dengan Oman, sekutu AS.
Namun, pihak AS menolak interpretasi tersebut. Ketegangan kembali meningkat ketika Iran mulai menembaki kapal-kapal yang dinilai berusaha melintasi Selat Hormuz melalui rute yang tidak disetujui. Menyikapi hal itu, Trump menyatakan pada 7 Juli bahwa kesepakatan tersebut telah berakhir.
Waktu Tenggat dari Iran
Pejabat Iran menyampaikan kepada Reuters bahwa AS harus memenuhi seluruh ketentuan MoU dalam beberapa minggu ke depan sebagai syarat utama untuk negosiasi lanjutan.Meski Iran menunjukkan ketahanan militer selama perang, para pemimpinnya mengkhawatirkan ancaman sanksi ekonomi tambahan yang dapat memperberat kondisi dalam negeri, memicu kembali gelombang protes, dan menggerogoti legitimasi pemerintah.
Iran memasuki peperangan ini di tengah tingginya angka inflasi, melemahnya mata uang, krisis energi, sanksi internasional, serta kelemahan struktur ekonomi.
Saat ini, negara tersebut juga harus menghadapi kerusakan infrastruktur, gangguan perdagangan, penurunan produksi, dan besarnya biaya rekonstruksi.
Secara terpisah, Iran telah bernegosiasi dengan Oman terkait pengelolaan selat dan mengklaim hampir mencapai kesepakatan. Trump menanggapi negosiasi tersebut dengan memberikan ancaman kepada negara Teluk yang merupakan mitra keamanan lama AS itu.
"Jika Oman menghalangi, kami akan membom mereka habis-habisan," ujar Trump kepada Fox News.
Konflik ini telah menewaskan ribuan jiwa, terutama di Iran dan Lebanon. Iran juga telah melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS serta infrastruktur di beberapa negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Dalam pidato kampanye pada Jumat, 14 Agustus 2026 Trump memperingatkan masyarakat AS untuk bersiap menghadapi tingginya harga bahan bakar akibat perang.
Harga minyak mentah Brent berjangka melonjak selama konflik hingga mencapai puncak 126 dolar per barel, atau sekitar 75 persen di atas tingkat sebelum perang. Minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari 2 dolar pada Senin menjadi 90,87 dolar per barel.
Berdasarkan data kelompok otomotif AAA, harga bensin di AS naik dari kurang dari 3 dolar sebelum perang menjadi di atas 4 dolar per galon, yang menjadi isu krusial menjelang pemilu sela Kongres AS pada November mendatang.