Update Korban Gempa NTT, BNPB: 14 Orang Meninggal

Ruas Jalan Rusak Akibat Gempa Flores, Sabtu (15/8). Tangkapan Layar Video

Update Korban Gempa NTT, BNPB: 14 Orang Meninggal

Lukman Diah Sari • 15 August 2026 13:15

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 14 orang meninggal dunia akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Meski demikian, BNPB menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan dalam proses verifikasi di lapangan.

"Berdasarkan pemutakhiran data hingga pukul 12.30 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan 11 orang luka ringan," ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, dalam siaran pers resmi, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Berdasarkan sebarannya, korban meninggal dunia sementara tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak tiga orang, Kabupaten Manggarai enam orang, dan Kabupaten Manggarai Timur lima orang. Sementara itu, korban luka-luka dilaporkan tersebar di Kabupaten Sikka, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur.

"Data korban merupakan data sementara dan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi oleh BPBD bersama unsur terkait. Setiap perkembangan data akan disampaikan berdasarkan hasil pendataan resmi di lapangan," jelas Berton.

Selain korban jiwa, bencana tersebut juga berdampak pada sekitar lima kepala keluarga, dengan kurang lebih 2.000 warga terpaksa melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri. Sebagian besar warga meninggalkan rumah menyusul guncangan yang sangat kuat serta adanya peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan usai gempa utama.

Petugas hotel Evakuasi barang tamu dampak gempa NTT. (Foto : MI/ Marianus)

BNPB terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga diminta menghindari bangunan yang mengalami retak atau rusak parah akibat gempa, mengingat potensi gempa susulan masih terus mengintai.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah pesisir, BNPB meminta agar tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG. Meskipun peringatan dini tsunami telah resmi berakhir, tingkat kewaspadaan tinggi tetap diperlukan terhadap potensi gempa susulan maupun bahaya lanjutan akibat kerusakan struktural bangunan.

BNPB bersama BPBD dan unsur lintas instansi terkait akan terus melakukan pemantauan intensif serta pemutakhiran berkala mengenai dampak gempa. Seluruh informasi resmi terkait perkembangan situasi darurat ini dapat diakses melalui kanal komunikasi resmi pemerintah dan BMKG.

(Lukman Diah Sari)