Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn saat berbicara di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin, 14 September 2026. (Metrotvnews.com)
Sekjen ASEAN Tegaskan Interdependensi Ekonomi Kawasan Harus Dibuat Lebih Aman
Muhammad Reyhansyah • 14 September 2026 16:13
Jakarta: Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menegaskan bahwa sentralitas ASEAN harus terus diperjuangkan di tengah rivalitas strategis yang semakin tajam dan perubahan arsitektur regional yang kian kompleks.
“Sentralitas, pada akhirnya, tidak dapat hanya bertumpu pada warisan kelembagaan. Sentralitas harus terus diperjuangkan melalui kemampuan ASEAN untuk mempertemukan negara-negara, mengelola perbedaan, dan memungkinkan aksi kolektif ketika hal itu diperlukan,” kata Kao dalam 3rd ASEAN Think Tanks Summit (ATTS) di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Menurut Kao, tantangan tersebut menjadi semakin relevan ketika ASEAN menghadapi lingkungan regional dan internasional yang lebih diperebutkan, kompleks, dan tidak terprediksi.
“Tantangannya bukan sekadar menavigasi tekanan-tekanan tersebut, tetapi melakukannya tanpa kehilangan persatuan, solidaritas, sentralitas, dan arah ASEAN dalam bergerak menuju Visi Komunitas ASEAN 2045: Our Shared Future,” ujar Kao.
Kao menyoroti meningkatnya rivalitas strategis, kemunculan berbagai institusi dan inisiatif baru, serta kecenderungan negara-negara untuk mengandalkan koalisi berbasis isu dan pengaturan minilateral.
Risiko Fragmentasi Regional
Menurut dia, perkembangan tersebut menimbulkan tantangan bagi ASEAN untuk memastikan arsitektur regional yang semakin kompleks tidak menjadi begitu terfragmentasi hingga proses-proses yang dipimpin ASEAN kehilangan koherensi, relevansi, dan daya untuk mempertemukan negara-negara.“Persoalannya bukan apakah dialog masih relevan, melainkan bagaimana ASEAN dapat memanfaatkan instrumen dan mekanisme yang telah dimilikinya secara lebih strategis dan efektif,” kata Kao.
Dia menyebut ASEAN Regional Forum, East Asia Summit, ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM), dan ADMM-Plus, bersama dengan ASEAN Institute for Peace and Reconciliation, sebagai sejumlah institusi dan mekanisme yang menyediakan saluran bagi dialog, pembangunan kepercayaan, dan kerja sama praktis.
Namun, Kao menekankan bahwa tantangannya adalah memastikan mekanisme-mekanisme tersebut tetap relevan ketika lanskap regional berubah. Menurut dia, ujian terhadap sentralitas ASEAN akan terlihat dari apa yang dapat dicapai institusi-institusi ASEAN.
Menjaga Kapasitas ASEAN Menentukan Arah
Kao juga menekankan perlunya ASEAN mempertahankan kapasitas untuk menentukan prioritas dan membentuk masa depannya sendiri, sembari tetap terbuka terhadap kemitraan dengan negara-negara besar dan mitra lainnya.“ASEAN memperoleh banyak manfaat dari keahlian, pengalaman, keterlibatan, dan dukungan para mitra dialog, mitra dialog sektoral, dan mitra pembangunan. Namun, keterlibatan dengan para mitra harus memperkuat, bukan menggantikan, kapasitas ASEAN sendiri untuk menentukan kepentingannya dan membuat pilihannya,” tutur Kao.
“Kepemilikan tidak berarti menutup diri. Kepemilikan berarti memanfaatkan gagasan-gagasan terbaik dari dalam maupun luar kawasan, sembari tetap menjadikan prinsip, prioritas, dan kepentingan ASEAN sebagai kompas strategis,” lanjutnya.
3rd ASEAN Think Tanks Summit (ATTS) digelar di Sekretariat ASEAN, Jakarta, pada 14–15 September 2026. Forum tersebut mempertemukan pakar dari lembaga think tank dan institusi riset ASEAN serta mitra dialog dan pembangunan untuk bertukar analisis dan memberikan masukan langsung kepada pejabat pemerintah.
Diselenggarakan Singapore Institute of International Affairs (SIIA) atas nama ASEAN Institutes of Strategic and International Studies (ASEAN-ISIS), ATTS tahun ini mengangkat tema “Navigating Our Future, Together” yang selaras dengan keketuaan ASEAN Filipina. Forum tersebut membahas penguatan ketahanan, relevansi, dan kerja sama ASEAN dalam menghadapi lingkungan global yang semakin kompleks.
Diskusi ATTS mencakup perdamaian dan dialog, peringatan 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) serta ASEAN Centrality, dan tantangan keamanan transnasional. Hasil pembahasan akan berkontribusi pada policy memo untuk pertemuan tingkat tinggi ASEAN pada November 2026.
Baca juga: Sekjen Kao: Sentralitas ASEAN Harus Diperjuangkan di Tengah Rivalitas Strategis