Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Trump di Persimpangan: Risiko Militer dan Opsi Non-Mematikan di Krisis Iran
Willy Haryono • 13 January 2026 13:50
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi “sangat kuat” untuk merespons situasi di Iran, seiring aksi protes anti-pemerintah yang memasuki minggu ketiga.
Meski Trump berulang kali menegaskan kesiapan AS untuk membantu para demonstran, Gedung Putih kini dihadapkan pada pilihan strategis yang kompleks dan berisiko tinggi.
Dikutip dari The Week, Selasa, 13 Januari 2026, para pengamat menilai Trump berada dalam dilema besar. Analisis dari The Economist menyebutkan tidak ada preseden bagi Amerika Serikat untuk meluncurkan ofensif militer semata-mata demi mendukung protes damai yang tidak memiliki kepemimpinan terpusat.
Sementara itu, analis militer dari Tel Aviv University, Danny Citrinowicz, memperingatkan bahwa serangan militer besar justru berisiko memperkuat kohesi internal rezim Iran dan memicu eskalasi konflik di kawasan.
Berbeda dengan operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di masa lalu, laporan The Guardian mencatat belum adanya pergerakan signifikan aset militer Amerika Serikat ke wilayah sekitar Iran.
Upaya pemenggalan kepemimpinan juga dinilai sulit, mengingat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta elite Pengawal Revolusi telah memperketat pengamanan pribadi secara signifikan.
Alih-alih langkah militer langsung, Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat senior untuk membahas opsi non-mematikan. Menurut laporan The Wall Street Journal, opsi tersebut mencakup penggunaan senjata siber untuk melumpuhkan infrastruktur militer dan sipil Iran, koordinasi dengan Elon Musk guna mengaktifkan layanan Starlink, serta penambahan sanksi ekonomi untuk mempersempit ruang gerak finansial rezim di Tehran.
Menanggapi kemungkinan serangan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa jika Iran diserang, maka Israel serta seluruh pangkalan dan kapal militer Amerika Serikat akan menjadi target sah bagi militer Iran.
Saat ini, militer Israel dilaporkan berada dalam status siaga tertinggi. Tel Aviv menyadari bahwa meskipun tidak terlibat langsung dalam serangan Amerika Serikat, Iran kemungkinan tetap akan meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel.
Di sisi lain, mitra-mitra terdekat Amerika Serikat di Timur Tengah terus mendesak Washington agar menahan diri. Mereka khawatir langkah agresif AS justru memperkuat narasi bahwa gelombang protes di Iran merupakan plot anti-Islam yang direkayasa Barat. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Korban Tewas Protes Iran Jadi 646 Orang, 10 Ribu Lebih Ditangkap