Aritmia Bisa Picu Stroke di Usia Produktif, Ini Faktanya

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Aritmia Bisa Picu Stroke di Usia Produktif, Ini Faktanya

Ade Hapsari Lestarini • 6 March 2026 18:45

Jakarta: Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022 mencatat sekitar 19,8 juta kematian akibat penyakit ini. Salah satu gangguan jantung yang perlu diwaspadai adalah gangguan irama jantung atau aritmia, terutama Atrial Fibrilasi (AF).

Secara global, kasus AF merupakan aritmia paling umum dengan jumlah mencapai 59 juta-60 juta kasus pada 2019 dan diperkirakan terus meningkat. AF yang tidak terdeteksi dan tidak tertangani dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat, gagal jantung lima kali lipat, serangan jantung dua kali lipat, serta kematian jantung mendadak hingga 2,5 kali lipat.

Sejalan dengan Pulse Day Campaign yang diselenggarakan oleh Asia-Pacific Heart Rhytm Society (APHRS) dan Indonesian Heart Rythm Society (InaHRS), Siloam Hospitals TB Simatupang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, meluncurkan kampanye edukatif Lets Check The Beat. Kampanye ini mengajak masyarakat mengenali aritmia, faktor risiko, serta melakukan deteksi dini melalui skrining elektrokardiogram (EKG).

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi mengatakan penyakit jantung merupakan tantangan besar kesehatan global dan nasional. Ia menekankan pentingnya deteksi dini karena sekitar sepertiga pasien AF tidak menunjukkan gejala hingga terjadi komplikasi seperti stroke atau gagal jantung.

Menurut Nadia, pemerintah telah memperkuat upaya promotif dan preventif, termasuk melalui kampanye gaya hidup sehat CERDIK, program Cek Kesehatan Gratis, serta penyediaan alat EKG di puskesmas. Berdasarkan data ASIK CKG periode Februari-Desember 2025, sebanyak 2.415.198 peserta usia 40 tahun ke atas dengan hipertensi dan/atau diabetes melitus telah menjalani pemeriksaan EKG, melampaui target 20 persen dari total sasaran.

Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) Erika Maharani menyebut jumlah pasien aritmia terus meningkat. Sementara sistem pelayanan masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur, distribusi tenaga subspesialis aritmia yang belum merata, akses terhadap terapi definitif seperti ablasi jantung dan perangkat implan yang masih terbatas, serta dukungan pembiayaan yang belum sepenuhnya optimal.

 

 

Cetak Biru Rencana Pengembangan Aritmia Nasional


Sebagai respons, InaHRS menyusun Cetak Biru Rencana Pengembangan Aritmia Nasional yang selaras dengan enam pilar Transformasi Kesehatan, dengan fokus pada deteksi dini, perluasan akses layanan, registri nasional berbasis data, serta penguatan pembiayaan berkelanjutan.

Chief of Medical Officer Siloam International Hospitals dr Grace Frelita mengatakan pihaknya memiliki 14 pusat pelayanan jantung terpadu dengan lebih dari 250 dokter spesialis dan subspesialis jantung. Setiap tahun, jaringan rumah sakit tersebut melakukan lebih dari 2.100 operasi jantung dan 15.800 prosedur kateterisasi (cath lab).

Sementara itu, Prof Yoga Yuniadi, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus ahli aritmia di Siloam Hospitals TB Simatupang, menjelaskan hingga 40 persen stroke iskemik secara global berkaitan dengan AF. Ia menambahkan, studi di Indonesia menunjukkan pasien AF cenderung lebih muda dibandingkan negara maju, sementara cakupan pencegahan stroke masih rendah.

Menurut Yoga, terapi AF meliputi pengendalian faktor risiko, pencegahan stroke, pengaturan laju atau irama jantung, serta evaluasi berkala. Tindakan ablasi kateter pada fase dini, yakni kurang dari satu tahun sejak diagnosis, dinilai lebih efektif dan aman dibanding terapi obat dalam mencegah komplikasi.

Pada 2024–2025, Siloam Hospitals TB Simatupang mencatat 33 persen pasien stroke yang menjalani pemeriksaan monitor ambulatori (holter) terdeteksi memiliki aritmia. Sebanyak 37 persen pasien stroke juga berada pada usia produktif. Dalam periode tersebut, sekitar 1.723 pasien aritmia berhasil dideteksi dan ditangani.

Rumah sakit ini juga mengembangkan prosedur ablasi tanpa paparan sinar-X (non-fluoroscopic ablation) untuk mengurangi risiko radiasi pada pasien.

CEO Siloam Hospitals TB Simatupang Mada Shinta Dewi mengatakan kampanye “Let’s Check The Beat” bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak mengabaikan aritmia yang berisiko tinggi menyebabkan stroke dan kematian mendadak.

Melalui kampanye ini, masyarakat dapat mengikuti skrining EKG di Siloam Hospitals TB Simatupang setiap Kamis dan Jumat pukul 10.00–12.00 WIB serta Sabtu pukul 09.00–11.00 WIB. Program berlangsung sejak Maret hingga September 2026, bertepatan dengan World Heart Day.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)