Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap dan dibawa ke AS. (Truth Social)
Venezuela Tuduh AS Gunakan Senjata Berbasis AI dalam Operasi Tangkap Maduro
Willy Haryono • 27 January 2026 13:17
Caracas: Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López menuduh Amerika Serikat menggunakan negaranya sebagai “laboratorium senjata” selama operasi penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya pada 3 Januari lalu. Pihak Venezuela mengklaim militer AS menguji teknologi militer canggih berbasis kecerdasan buatan (AI) yang belum pernah digunakan sebelumnya di medan perang.
Padrino López mengatakan dalam pernyataannya bahwa AS memanfaatkan situasi di Venezuela untuk “menguji coba teknologi militer mutakhir” selama operasi yang berakhir dengan ditangkapnya Maduro dan Cilia Flores.
Tuduhan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan New York Post pada Minggu lalu mengonfirmasi penggunaan senjata yang ia sebut sebagai The Discombobulator dalam operasi tersebut.
“Saya tidak diizinkan membicarakannya, tetapi senjata itu membuat peralatan (pertahanan) tidak berfungsi,” ujar Trump, seperti dikutip dari laporan media. Trump mengklaim bahwa perangkat tersebut menyebabkan sistem pertahanan Venezuela, termasuk peralatan yang berasal dari Rusia dan China, tidak dapat dioperasikan saat serangan berlangsung.
Beberapa laporan dari lapangan menggambarkan penggunaan senjata non-konvensional selama operasi di Caracas. Seorang penjaga keamanan Venezuela yang berada di lokasi operasi menggambarkan sensasi gelombang suara intens yang menyebabkan sakit kepala parah, pendarahan hidung, hingga muntah darah pada beberapa penjaga saat serangan terjadi. Beberapa saksi juga mencatat gangguan pada sistem elektronik dan radar militer selama serangan.
Trump dalam wawancara lain juga menyebut penggunaan senjata sonik untuk melumpuhkan pengawal Maduro yang berasal dari Kuba di kawasan yang sangat terproteksi. Pernyataan tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan penggunaan sistem acoustic weapons atau teknologi lain yang mampu menciptakan disorientasi fisik tanpa kerusakan fisik langsung.
Analis militer memperkirakan AS memang memiliki perangkat akustik berjangkauan jauh seperti Long Range Acoustic Device (LRAD) yang mampu memancarkan suara berdaya tinggi untuk menyebabkan disorientasi, mual, dan vertigo pada target. Namun, para pengamat skeptis bahwa senjata suara semata mampu melumpuhkan perangkat elektronik atau jaringan radar secara langsung dalam skala operasi besar.
Electronic Warfare
Selain senjata sonik, teknologi non-kinetik yang kemungkinan dipakai mencakup perangkat electronic warfare (EW) yang dirancang untuk mengacaukan radar dan sistem komunikasi lawan, memblokir sinyal GPS, serta operasi cyber-physical yang menggunakan gelombang mikro berkekuatan tinggi untuk menghancurkan sirkuit elektronik.Ada pula diskusi mengenai perangkat berbasis energi terarah (directed-energy weapons) yang digunakan untuk melumpuhkan perangkat elektronik tanpa kerusakan fisik pada infrastruktur.
Penggunaan teknologi baru dalam konflik nyata memang bukan hal baru bagi militer Amerika Serikat. Sejarah menunjukkan dalam Perang Teluk 1991, AS memperkenalkan pesawat siluman untuk pertama kali di medan perang, dan kemudian menggunakan Ibu dari Segala Bom (MOAB) di Afghanistan pada 2017 sebagai bagian dari strategi militer.
Istilah The Discombobulator sendiri menurut para pengamat bukan merupakan nama teknis suatu alat baru, melainkan label politik yang merujuk pada gabungan berbagai alat peretas dan pengacau sinyal yang dipakai dalam operasi militer tersebut.
Hingga kini, detail lengkap operasi penculikan Maduro masih tertutup rapat dan belum dikonfirmasi secara independen dari pihak AS, namun insiden ini telah memicu perdebatan global mengenai etika penggunaan senjata rahasia di wilayah kedaulatan negara lain.
Maduro dan istrinya kini ditahan di Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan terkait narkoterrorisme dan pelanggaran pidana berat lainnya, sementara pemerintah Venezuela dan pendukungnya mengecam operasi tersebut sebagai penculikan dan pelanggaran kedaulatan nasional. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Venezuela Bebaskan Lebih dari 100 Tahanan Politik, Diduga Ditekan AS