Kesehatan Anak Jadi Investasi SDM dan Ekonomi Masa Depan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar. Foto: dok istimewa.

Kesehatan Anak Jadi Investasi SDM dan Ekonomi Masa Depan

Ade Hapsari Lestarini • 10 August 2026 07:58

Bali: Kesehatan anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) dan produktivitas ekonomi Indonesia. Pemenuhan nutrisi, deteksi dini gangguan kesehatan, serta penanganan masalah tumbuh kembang sejak awal dinilai dapat menentukan kualitas generasi produktif di masa mendatang.

Sejumlah tantangan kesehatan anak, seperti gangguan saluran cerna, alergi, kekurangan zat besi, anemia, hingga gangguan pertumbuhan masih membutuhkan penanganan berbasis bukti ilmiah dan praktik klinis terkini.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Pediatric Science & Health Summit 2026 bertajuk "Advancing Science for Clinical Excellence" yang digelar Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) dan IDAI Cabang Bali pada 7-9 Agustus 2026 di Nusa Dua, Bali.

Forum tersebut mempertemukan para ahli kesehatan anak dari berbagai disiplin ilmu dan negara untuk membahas perkembangan penelitian, tantangan kesehatan anak, serta pendekatan berbasis sains dalam mendukung tumbuh kembang optimal.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan periode 1.000 HPK merupakan fase penting yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

"Periode 1.000 HPK paling menentukan bagi kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Proses perkembangan anak pada periode tersebut sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi serta kemampuan otak untuk terus berkembang melalui mekanisme neuroplastisitas," ujar Taruna, dalam keterangan tertulis, Senin, 10 Agustus 2026.

Menurut dia, perkembangan ilmu pengetahuan juga menunjukkan adanya keterkaitan antara kesehatan saluran cerna dan perkembangan otak melalui mekanisme gut-brain axis. Karena itu, pemenuhan nutrisi dan kesehatan saluran cerna menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan anak.

Taruna menekankan setiap inovasi pangan dan nutrisi perlu melalui penelitian, pembuktian ilmiah, komunikasi yang bertanggung jawab, serta harmonisasi regulasi sebelum diterjemahkan menjadi produk maupun rekomendasi kesehatan masyarakat.
 

 

Kesehatan anak dan kualitas SDM


Ketua Umum PP IDAI Piprim Basarah Yanuarso, menambahkan, peningkatan kualitas kesehatan anak harus berjalan seiring dengan penguatan layanan kesehatan berbasis bukti.

Menurut dia, tenaga kesehatan perlu terus memperbarui pengetahuan mengenai gangguan pertumbuhan, kesehatan saluran cerna, alergi, hingga defisiensi besi. Deteksi dini menjadi penting agar berbagai gangguan kesehatan dapat ditangani sebelum berdampak lebih jauh terhadap tumbuh kembang anak.

"Melalui forum ini, para dokter anak akan bersama-sama memperbarui pengetahuan mengenai growth faltering, precision biotics, tatalaksana alergi, serta pentingnya deteksi dini dan penanganan defisiensi besi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak," jelas Piprim.

Kesehatan anak juga memiliki kaitan erat dengan pembangunan kualitas SDM. Anak yang tumbuh sehat dan memperoleh nutrisi yang memadai memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, memperoleh pendidikan dengan baik, serta memasuki usia produktif dengan kapasitas yang lebih baik.

Karena itu, upaya memperkuat kesehatan anak sejak dini tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga dapat dipandang sebagai bagian dari investasi terhadap kualitas modal manusia dalam jangka panjang.


Pediatric Science & Health Summit 2026. Foto: dok PP-IDAI.
 

Deteksi dini tekan risiko jangka panjang


Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi. Dokter Anak Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Rini Sekartini mengatakan zat besi memiliki peran penting dalam tumbuh kembang dan perkembangan sistem saraf anak.

Menurut Rini, kekurangan zat besi dapat memengaruhi kemampuan berpikir, fokus, memori, energi, hingga daya tahan tubuh. Kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian karena tidak selalu mudah dikenali sejak awal.

"Pada anak-anak, zat besi merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk proses tumbuh kembangnya. Fungsi zat besi penting dalam perkembangan sistem saraf," ujar Rini.

Ia menilai deteksi dini perlu diperkuat untuk mengidentifikasi risiko kekurangan zat besi maupun anemia sebelum kondisinya berkembang lebih serius.

"Sebagai waktu yang tepat untuk bertindak adalah sebelum kondisi menjadi lebih berat. Skrining dini, termasuk pendekatan noninvasif seperti pemantauan hemoglobin atau evaluasi asupan zat besi, dapat membantu mengidentifikasi risiko lebih awal," jelas dia.

Selain anemia, gangguan pertumbuhan seperti stunting juga membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi Nur Aisiyah Widjaja mengatakan penanganan gangguan pertumbuhan tidak cukup hanya dengan meningkatkan asupan kalori, tetapi perlu memperhatikan kualitas dan keseimbangan nutrisi.

Menurut dia, intervensi nutrisi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak dan dilakukan berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.

Sementara itu, kesehatan saluran cerna menjadi salah satu aspek yang turut dibahas dalam forum tersebut. Para ahli menyoroti peran mikrobiota usus terhadap fungsi pencernaan dan sistem imun anak.

Pakar gastroenterologi dan nutrisi anak dari University Hospital Brussels (UZ Brussel), Belgia, Yvan Vandenplas mengatakan keseimbangan mikrobiota usus menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam mendukung kesehatan anak.

"Mikrobiota usus memainkan peran sentral dalam penyerapan nutrisi, perkembangan sistem imun, hingga pertumbuhan anak," jelas Yvan.

Pembahasan mengenai kesehatan saluran cerna, alergi, gangguan pertumbuhan, serta defisiensi zat besi menunjukkan bahwa peningkatan kualitas kesehatan anak membutuhkan pendekatan yang terintegrasi.

Di sisi lain, penguatan ekosistem kesehatan berbasis penelitian juga membuka ruang kolaborasi antara tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, regulator, dan industri untuk menghadirkan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan kesehatan anak.

Dengan semakin kuatnya bukti ilmiah dan deteksi dini, upaya menjaga kesehatan anak sejak 1.000 HPK diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup individu, tetapi juga berkontribusi terhadap pembentukan SDM yang sehat, produktif, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

(Ade Hapsari Lestarini)