Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei. (SAMA)
Iran Ancam Balasan Keras Jika AS Coba Bunuh Mojtaba Khamenei
Willy Haryono • 14 March 2026 15:34
Moskow: Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali memperingatkan bahwa Iran akan memberikan balasan keras jika Amerika Serikat berupaya membunuh pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei.
Dalam wawancara dengan kantor berita Rusia RIA Novosti yang dikutip Antara pada Sabtu, 14 Maret 2026, Jalali menyatakan bahwa serangan balasan Iran yang terjadi saat ini merupakan respons atas kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan sebelumnya.
“Anda sedang melihat tanggapan Iran hari ini,” kata Jalali ketika ditanya mengenai kemungkinan reaksi Iran jika Amerika Serikat dan Israel mencoba membunuh Mojtaba Khamenei.
Ia mengatakan kemarahan publik Iran atas kematian pemimpin tertinggi mereka akan mendorong tuntutan pembalasan terhadap Amerika Serikat.
“Kami menginginkan pembalasan darah untuk pemimpin kami. Rakyat marah dan menuntut pembalasan atas pertumpahan darah,” ujarnya.
Jalali menambahkan bahwa Amerika Serikat telah dan akan menghadapi konsekuensi berat atas tindakan tersebut di masa depan.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta menimbulkan korban sipil dan kerusakan infrastruktur.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan drone dan rudal terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah.
Pada 8 Maret, putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Hingga kini ia belum tampil di hadapan publik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei sebelumnya menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka tetapi kondisinya dalam keadaan baik.
Amerika Serikat dan Israel awalnya menyatakan serangan mereka merupakan langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran, namun kemudian juga menyebut tujuan operasi tersebut mencakup perubahan kekuasaan di negara tersebut.
Baca juga: AS Tawarkan Hadiah Rp170 Miliar untuk Informasi Keberadaan Mojtaba Khamenei