Ilustrasi cuaca ekstrem. Foto: Dok. Antara.
BMKG: Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang hingga Pertengahan Februari
Atalya Puspa • 10 February 2026 10:53
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 10–12 Februari 2026. Fenomena penguatan Monsun Asia yang disertai pergerakan seruakan dingin (cold surge) memicu peningkatan signifikan curah hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
"Dalam beberapa hari ke depan, terpantau adanya pergerakan seruakan dingin (cold surge) seiring dengan penguatan Monsun Asia," ungkap BMKG dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, dilansir dari Media Indonesia, Selasa, 10 Februari 2026.
BMKG menjelaskan bahwa penguatan angin utara dan tingginya indeks Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) berdampak langsung pada status siaga di sejumlah provinsi besar. Wilayah yang masuk kategori siaga hujan sangat lebat meliputi DKI Jakarta, Banten, seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Kondisi ini diprediksi masih akan berlanjut dengan intensitas tinggi hingga pertengahan Februari. Yakni, pada periode 13–16 Februari mendatang.
Selain ancaman hujan lebat, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi angin kencang yang dapat memicu dampak lanjutan seperti pohon tumbang, banjir, hingga tanah longsor. BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan para pemangku kepentingan untuk memitigasi bencana hidrometeorologi yang dapat mengganggu mobilitas dan transportasi darat, laut, maupun udara.
.jpg)
Ilustrasi cuaca ekstrem. Foto: Dok. Antara.
"BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak bencana hidrometeorologi," tulis BMKG.
Untuk mendukung keselamatan perjalanan, masyarakat disarankan rutin memantau informasi cuaca terkini melalui aplikasi InfoBMKG atau layanan Digital Weather for Traffic (DWT). Langkah ini penting dilakukan mengingat dinamika cuaca di wilayah ekuator yang dapat berubah sewaktu-waktu akibat pengaruh pergerakan massa udara dingin dari belahan bumi utara.