Aksi Jual Global Mengguncang Pasar Saham, Investor Mulai Waspadai Risiko AI

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Aksi Jual Global Mengguncang Pasar Saham, Investor Mulai Waspadai Risiko AI

Husen Miftahudin • 24 June 2026 10:25

New York: Pasar saham global mengalami tekanan pada perdagangan Selasa waktu setempat, dipicu aksi jual besar-besaran yang meluas dari sektor teknologi ke berbagai kawasan.
 
Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 bergerak melemah seiring sentimen risk-off yang kembali mendominasi pasar. Pelemahan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya konsentrasi posisi pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI), yang selama ini menjadi motor utama reli pasar.
 
Analis Vital Knowledge Adam Crisafulli menilai tekanan di sektor teknologi bukan dipicu satu sentimen tunggal, melainkan hasil akumulasi sejumlah faktor dalam beberapa pekan terakhir.
 
"Apa yang mendorong pelemahan sektor teknologi? Seperti yang biasanya terjadi dalam situasi seperti ini, lebih merupakan akumulasi faktor selama beberapa minggu terakhir, bukan satu berita utama dalam 12 hingga 24 jam terakhir," tulis Crisafulli, dikutip dari Investing.com, Rabu, 24 Juni 2026.
 
Menurut dia, reli panjang sektor teknologi, terutama yang terkait AI, mulai memunculkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan valuasi dan potensi keuntungan.
 

Baca juga: Saham AS Turun, Aksi Jual Sektor Cip Picu Tekanan di Wall Street
 

Bursa Asia dan Eropa ikut tertekan

 
Tekanan di pasar global lebih dulu terlihat di Asia. Indeks Nikkei 225 dan Hang Seng melemah, sementara indeks KOSPI Korea Selatan anjlok hingga 10 persen.
 
Saham-saham unggulan AI seperti Samsung Electronics dan SK Hynix mencatat penurunan tajam. Tim strategi Citigroup yang dipimpin David Chew menilai level KOSPI telah kembali ke titik ekstrem setelah reli kuat sebelumnya.
 
Di Eropa, indeks STOXX Europe 600 ikut memperpanjang pelemahan dengan penurunan 1,1 persen pada sesi pagi.
 
Ahli strategi UBS yang dipimpin Gerry Fowler menilai investor mulai menyadari tingginya kepadatan posisi pada saham AI. "Investor semakin menyadari dinamika kepadatan posisi dan mulai mempertanyakan seberapa besar potensi keuntungan yang tersisa dibandingkan risikonya," tulis Fowler.
 
UBS menilai pasar masih percaya pada prospek jangka panjang AI, namun secara taktis keyakinan itu mulai melemah, terutama di kalangan hedge fund yang mulai memangkas eksposur.


(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
 

Risiko valuasi premium mulai jadi sorotan

 
Reli AI sepanjang 2025 hingga 2026 mendorong konsentrasi modal besar pada saham perancang semikonduktor, penyedia cloud hyperscale, produsen cip memori, serta infrastruktur AI lainnya.
 
Namun, UBS memperingatkan pertumbuhan belanja modal berpotensi melambat seiring aktivitas yang mulai mendekati batas optimal. Jika revisi pendapatan yang selama ini menopang valuasi premium mulai kehilangan momentum, landasan fundamental bagi saham AI berpotensi melemah.
 
Pelaku pasar kini menantikan laporan kinerja Micron Technology yang dijadwalkan dirilis Rabu setelah penutupan perdagangan. Laporan tersebut dinilai dapat menjadi katalis baru untuk mengukur apakah siklus pertumbuhan sektor AI masih berlanjut atau justru mulai kehilangan daya dorong.
 
Bagi investor, perhatian kini tertuju pada apakah aksi jual saat ini hanya sebatas penyesuaian taktis atau menjadi awal koreksi yang lebih dalam di sektor teknologi global.

(Husen Miftahudin)