Uji Coba MLFF Berlanjut, Investor Tunggu Arahan Pemerintah soal Skenario Testing

Ilustrasi jalan tol. Dok. Istimewa

Uji Coba MLFF Berlanjut, Investor Tunggu Arahan Pemerintah soal Skenario Testing

Achmad Zulfikar Fazli • 19 June 2026 22:59

Jakarta: PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) menyambut baik rencana pemerintah segera merampungkan skenario testing sistem pembayaran tol nirhenti dan nirsentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan teknologi dan kesesuaian dengan ekosistem jalan tol di Indonesia.

Direktur PT Roatex Indonesia Toll System Renaldi Utomo mengatakan RITS berperan mendukung pemerintah dalam menyusun skenario teknis untuk pelaksanaan pengujian. Berbagai skenario teknis tengah dibahas, baik kondisi ideal maupun situasi yang berpotensi menimbulkan kendala di lapangan.

“Kami menunggu arahan pemerintah. Dari 2022 sampai sekarang kami selalu mengikuti arahan yang diberikan pemerintah,” ujar Renaldi dalam keterangan tertulis, Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut Renaldi, koordinasi antara pemerintah dengan pihak investor berjalan baik. Dia menilai Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan komitmen kuat terhadap kelanjutan proyek tersebut.

Dia mengatakan sebagai investor sekaligus mitra pemerintah, RITS berkepentingan agar proyek berjalan sesuai rencana. Perusahaan juga melihat adanya keseriusan pemerintah memastikan implementasi dilakukan hati-hati dan berbasis pengujian yang memadai.

Renaldi menegaskan kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak memperoleh surat perintah kerja dari pemerintah pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada konsep MLFF. Namun, dalam masa transisi, penggunaan palang dalam gerbang tol fisik masih dimungkinkan.

“Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung,” kata Renaldi.

Kajian ulang dan penyusunan skenario uji coba menjadi tahapan penting sebelum pemerintah memutuskan kelanjutan implementasi MLFF. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi antrean kendaraan, serta mempercepat transformasi digital layanan jalan tol nasional.

Proyek MLFF bagian dari agenda modernisasi sistem transaksi jalan tol nasional sejak 2018. Sistem ini dirancang untuk menggantikan transaksi berbasis kartu elektronik dengan teknologi, yang memungkinkan kendaraan tetap melaju tanpa berhenti atau memperlambat kecepatan secara signifikan saat memasuki jalan tol.

Baca Juga: 

KemenPU Pastikan Uji Coba Ulang Sistem Transaksi MLFF Segera Digelar

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum Ni Komang Rasminiati mengatakan pemerintah masih mengkaji ulang kelayakan implementasi MLFF. Selain aspek regulasi dan operasional, pemerintah mendetailkan teknis untuk memastikan keandalan sistem sebelum diterapkan secara nasional.

“Tahap ini kita lagi melakukan pendetailan penyiapan untuk rencana uji coba terhadap sistem ini, apakah bisa diaplikasikan terhadap ekosistem jalan tol di Indonesia,” kata Komang.

Ilustrasi jalan tol. Dok. Istimewa

Sementara itu, pengamat transportasi sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada Danang Parikesit menilai implementasi teknologi baru di jalan tol perlu dikaitkan dengan kemampuan badan usaha jalan tol dalam memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM).

Menurut dia, terdapat sejumlah faktor eksternal yang dapat memengaruhi pencapaian standar pelayanan tersebut. Salah satunya keberadaan kendaraan over dimension over load (ODOL) yang dapat mempercepat kerusakan jalan tol.

“SPM harus dipenuhi apabila kapasitas badan usaha jalan tol memungkinkan mereka mengelola variabel-variabel yang memengaruhi pemenuhannya. Selama badan usaha tidak mampu melarang kendaraan ODOL masuk ke jalan tol dan kendaraan tersebut menyebabkan kerusakan dini, mereka dapat memiliki alasan tidak dapat memenuhi SPM,” kata Danang.

Dia menambahkan penerapan MLFF akan berdampak pada berbagai aspek layanan jalan tol, mulai dari waktu pemrosesan transaksi di gerbang tol, hingga pengelolaan layanan pendukung seperti kawasan istirahat. Oleh karena itu, pengujian yang komprehensif dinilai penting untuk memastikan perubahan sistem pembayaran tidak menimbulkan persoalan baru dalam operasional jalan tol.

(Achmad Zulfikar Fazli)