AS Resmi Luncurkan Operasi Economic Outcast untuk Putus Jalur Keuangan Iran

Ilustrasi Anadolu

AS Resmi Luncurkan Operasi Economic Outcast untuk Putus Jalur Keuangan Iran

Fajar Nugraha • 25 August 2026 09:31

Washington: Amerika Serikat (AS) pada Senin 24 Agustus 2026 meluncurkan Operasi Economic Outcast, sebuah kampanye besar-besaran yang bertujuan untuk mengisolasi Iran sepenuhnya dari sistem keuangan global.

"Tujuan kami adalah memutus setiap jalur kehidupan ekonomi yang menopang rezim tirani ini hingga Teheran berdiri sendiri," ujar Menteri Kementerian Keuangan Scott Bessent kepada para wartawan, seperti dikutip Anadolu.

“AS tidak lagi sekadar mengelola ancaman Iran melainkan mengakhirinya," kata Bessent.

Bessent menambahkan bahwa "kekuatan ekonomi Amerika" memungkinkan Washington untuk melancarkan serangan finansial semacam itu bersamaan dengan operasi militer.

Atas arahan Presiden AS Donald Trump, “sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menyasar jalur kehidupan paling vital Iran, termasuk sektor penerbangan, pelayaran, emas, teknologi, dan aset digital”.

Bessent juga mencatat bahwa Kementerian Keuangan memasukkan lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal di seluruh dunia ke dalam daftar hitam, yang secara signifikan memperluas risiko sanksi sekunder bagi pihak internasional mana pun yang terus berbisnis dengan Teheran.

Ia menggambarkan kebijakan tersebut sebagai upaya "melumpuhkan rezim ini secara ekonomi hingga tak bisa bernapas."

Tidak ada pihak yang kebal dari jangkauan sanksi AS

Bessent memperingatkan para pelaku yang terlibat dalam "ekosistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang" bahwa mereka akan menjadi sasaran dan "tidak bisa menyalahkan siapa pun selain diri mereka sendiri," sembari menegaskan bahwa "tidak ada pihak yang kebal dari jangkauan" langkah-langkah baru tersebut.

Ia juga mendesak mitra-mitra AS untuk bertindak, dengan mengatakan bahwa "tidak dapat diterima lagi untuk beroperasi di wilayah abu-abu" konflik tersebut. Bessent mengatakan tim gabungan dari Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, dan militer sedang bertemu dengan mitra-mitra mereka di seluruh dunia untuk menyampaikan pesan yang jelas: setiap negara memiliki "batas waktu yang ditetapkan" untuk menghentikan aktivitas Iran yang telah teridentifikasi atau menghadapi tindakan sepihak dari AS.

Mengenai Tiongkok, Bessent mengatakan "cara terbaik untuk berinteraksi dengan negara-negara lain adalah melalui diplomasi senyap, seraya menambahkan bahwa AS saat ini sedang menyelaraskan kembali ekspektasi dengan Beijing”.

Bessent juga menggambarkan keputusan Uni Emirat Arab baru-baru ini untuk menghentikan seluruh perdagangan dan transaksi keuangan dengan Iran sebagai tindakan yang memiliki "hubungan sebab-akibat" dan merupakan hasil dari tekanan AS.

Ia mengatakan bahwa para pejabat Departemen Keuangan telah memetakan "setiap titik, setiap fasilitator, dan setiap jaringan" yang digunakan oleh Teheran untuk penyelundupan minyak dan penghindaran sanksi.

Bessent menyatakan bahwa AS menerapkan "pendekatan tanpa celah kebocoran," tanpa memberikan "sedikit pun ruang gerak" bagi Iran untuk memulihkan kemampuannya, sementara berbagai lembaga terkait "memperketat cengkeraman" terhadap semua sumber pendapatannya.

Bessent memperingatkan bahwa entitas mana pun yang memfasilitasi pencucian uang untuk Teheran akan dikeluarkan secara permanen dari sistem dolar AS.

"Saya perkirakan Anda akan melihat pengumuman besar mengenai penjatuhan sanksi terhadap sebuah lembaga keuangan pada akhir pekan ini," ujar Bessent lebih lanjut tanpa memberikan rincian tambahan.

Trump dilaporkan melakukan panggilan telepon pribadi kepada para pemimpin dunia dengan permintaan khusus agar mereka menghentikan interaksi dengan rezim tersebut. "Kami sudah melihat hasilnya," kata Bessent.

"Mereka yang berpihak pada Amerika Serikat akan menuai manfaat dari kemitraan kami," tambah Bessent, seraya memperingatkan bahwa pihak-pihak yang tidak melakukannya akan turut terisolasi bersama rezim yang sedang "mengalami kemunduran hebat" tersebut.

Langkah ofensif ini -,yang digambarkan Bessent sebagai "D-Day ekonomi”,- menyusul klaim pemerintah bahwa infrastruktur militer dan nuklir Iran telah dilumpuhkan.

Trump baru-baru ini menegaskan bahwa Teheran sedang menghadapi tingkat inflasi sebesar 350% dan tidak lagi mampu membayar aparat keamanannya.

(Fajar Nugraha)