Tips Membuat Rumah Tahan Gempa Versi BNPB: Perhatikan Bahan Bangunan!

Rumah tahan gempa BRIN di NTT. (Dok. Antara)

Tips Membuat Rumah Tahan Gempa Versi BNPB: Perhatikan Bahan Bangunan!

Riza Aslam Khaeron • 25 August 2026 16:04

Jakarta: Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 kembali menunjukkan pentingnya membangun rumah tahan guncangan gempa.

BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. Gempa berkedalaman 15 kilometer tersebut bersumber dari aktivitas Sesar Naik Belakang Busur Flores (Flores Back Arc Thrust).

Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25 Agustus 2026 mencatat 103 orang meninggal dunia, 1.666 orang luka-luka, dan 77.912 rumah mengalami kerusakan.
Banyaknya rumah yang mengalami kerusakan menjadi pengingat pentingnya memperhitungkan konstruksi tahan gempa sejak awal pembangunan.

Salah satu aspek kunci adalah pemilihan bahan bangunan berkualitas dan pengerjaan yang benar.

Berikut tips memilih dan mengolah bahan bangunan untuk rumah tahan gempa berdasarkan panduan BNPB:
 

1. Beton


Pengujian Sederhana Dengan Menggunakan Cetakan dan Mengukur Selisih ketinggian dengan Cetakan. (Dok. BNPB)

Beton merupakan komponen penopang utama pada struktur rumah. Campuran beton harus dibuat dengan perbandingan material yang presisi agar mencapai tingkat kekuatan optimal. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
  • Gunakan perbandingan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil : 0,5 air.
  • Tuangkan air secara bertahap, tidak sekaligus.
  • Pastikan konsistensi adonan beton pulen, yaitu tidak terlalu encer dan tidak terlalu kental.
  • Gunakan kerikil berukuran maksimal 20 milimeter dengan gradasi yang seragam.
  • Gunakan semen tipe 1 yang berkualitas dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
     

2. Mortar


Hasil Pencampuran Mortar yang Baik. (Dok. BNPB)

Mortar berfungsi sebagai bahan perekat untuk mengikat material seperti pasangan batu bata. Kualitas adonan mortar yang buruk dapat melemahkan daya rekat antar-material. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
  • Gunakan perbandingan 1 semen : 4 pasir bersih.
  • Tambahkan air secukupnya hingga mencapai kekentalan ideal.
  • Pastikan pasir yang digunakan bersih dari lumpur.
  • Hindari penggunaan pasir berlumpur karena dapat menurunkan daya rekat semen.
     

3. Batu Fondasi


Kualitas Batu Kali/Gunung yang Baik Digunakan Sebagai Pondasi. (Dok. BNPB)

Fondasi bertugas menopang beban seluruh bangunan di atasnya. Oleh karena itu, pemilihan material batu fondasi tidak boleh asal-asalan. Kriteria batu fondasi yang baik:
  • Menggunakan batu kali atau batu gunung.
  • Bertekstur keras serta tidak mudah retak atau hancur.
  • Memiliki banyak sudut bersiku.
  • Bentuk batu bersiku membantu adonan mortar mengikat fondasi secara lebih kuat dan stabil.
     

4. Batu Bata


Kualitas Batu Bata yang Baik. (Dok. BNPB)

Kualitas batu bata menentukan keandalan struktur dinding rumah dalam menahan guncangan. Ciri-ciri batu bata yang baik:
  • Memiliki tepi yang lurus dan tajam.
  • Tidak memiliki banyak retakan dan tidak mudah patah.
  • Berdimensi relatif seragam dan tidak terlalu kecil.
  • Mengeluarkan suara nyaring (denting) saat diketukkan satu sama lain.
Proses Pengolahan Sebelum Pemasangan:
  • Rendam batu bata dalam air selama 5–10 menit.
  • Tiriskan hingga kering sebelum direkatkan dengan mortar.
  • Perendaman mencegah bata menyerap air dalam mortar secara berlebihan, sehingga proses pengeringan mortar berjalan normal dan daya rekatnya maksimal.
  • Bata yang baik tidak mengeluarkan banyak gelembung udara dan tidak hancur saat direndam.
     
 

5. Kayu


Kayu Yang Baik Digunakan Dalam Pembangunan. (BNPB)

Bila kayu digunakan sebagai elemen konstruksi, mutunya harus dipastikan memenuhi standar kekuatan. Kriteria kayu yang disarankan:
  • Berstruktur keras dan kering.
  • Berwarna gelap natural.
  • Berbentuk lurus dan bebas dari retakan.
  • Penggunaan kayu yang retak atau berkualitas rendah dapat melemahkan daya tahan rangka konstruksi.

(Riza Aslam Khaeron)