Ilustrasi bendera Indonesia dan Amerika Serikat. (Metrotvnews.com)
AS Siapkan Investasi Baru di RI dan Asia Tenggara, Fokus Energi dan Mineral Kritis
Willy Haryono • 8 July 2026 11:24
Jakarta: Pemerintah Amerika Serikat melalui lembaga pembiayaan pembangunan internasionalnya, DFC, berupaya meningkatkan investasi di Asia Tenggara dengan menjajaki berbagai peluang proyek strategis di enam negara, termasuk Indonesia.
Chief Policy Officer DFC, Caroline Vik, mengatakan lembaganya baru saja menyelesaikan kunjungan regional ke Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, dan Indonesia untuk membangun pipeline investasi baru di kawasan tersebut.
"Kami berusaha aktif membangun pipeline untuk melakukan lebih banyak investasi di kawasan ini," kata Vik dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 8 Juli 2026.
Menurut dia, DFC merupakan lengan investasi strategis internasional pemerintah Amerika Serikat yang bekerja sama dengan sektor swasta guna mendukung kepentingan diplomatik dan ekonomi AS sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi negara mitra dan sekutunya.
Lembaga tersebut memiliki kapasitas pendanaan hingga USD205 miliar yang dapat disalurkan dalam berbagai bentuk pembiayaan, mulai dari pinjaman, investasi ekuitas, asuransi risiko politik, penjaminan pinjaman, hingga pendanaan pengembangan proyek tahap awal.
Energi, Mineral Kritis, hingga Pertanian
Vik menjelaskan, DFC memiliki tiga tujuan utama dalam investasi globalnya, yakni membangun rantai pasok yang terdiversifikasi untuk material kritis, memperkuat sektor-sektor strategis, serta membangun infrastruktur penting di lokasi prioritas.Sektor prioritas DFC mencakup energi, mineral kritis, infrastruktur transportasi, infrastruktur digital, layanan keuangan, kesehatan, dan pertanian.
Selama kunjungan di Asia Tenggara, DFC bertemu dengan pejabat pemerintah serta pelaku industri di sektor-sektor prioritas untuk mengidentifikasi peluang investasi dan proyek yang dapat direalisasikan dalam beberapa tahun mendatang.
"Kami ingin menjadi mitra terbaik dan pihak pertama yang dihubungi kawasan ini untuk proyek-proyek prioritas yang ingin dijalankan pemerintah," ujar Vik.
Terkait Indonesia, Vik mengatakan pemerintah Indonesia menempatkan ketahanan energi sebagai salah satu fokus utama melalui eksplorasi sektor hulu serta pembangunan infrastruktur penyimpanan dan transportasi energi di sektor menengah.
Selain itu, pemerintah juga disebut mendorong pembangunan pelabuhan baru serta pengembangan sektor pertambangan dan pengolahan mineral kritis.
Dalam pertemuan dengan sektor swasta di Indonesia, DFC juga menemukan peluang kerja sama pada bidang energi nuklir dan layanan keuangan.
Selain Indonesia, DFC mencatat sejumlah prioritas berbeda di negara-negara Asia Tenggara lainnya, mulai dari semikonduktor dan mineral kritis di Vietnam, pembangunan pelabuhan dan konektivitas maritim di Kamboja, hingga pengembangan jaringan 5G dan keamanan energi di Malaysia.
Baca juga: Indonesia-AS Perkuat Kerja Sama Pertahanan, Libatkan PT Pindad hingga Boeing