BPS Ungkap Penyebab DTSEN Tidak Gunakan Pendapatan dan Perubahan Desil

Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) M. Nashrul Wajdi. Foto: tangkapan layar Youtube Metro TV

BPS Ungkap Penyebab DTSEN Tidak Gunakan Pendapatan dan Perubahan Desil

Muhamad Marup • 25 August 2026 21:50

Jakarta: Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) M. Nashrul Wajdi, menerangkan, Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) menggunakan pengeluaran sebagai proksi kesejahteraan masyarakat, bukan pendapatan. Penggunaan pengeluaran dilakukan karena pemerintah belum memiliki data pendapatan seluruh keluarga di Indonesia.

"Sebenarnya, idealnya kita untuk menyusun tingkat kesejahteraan harusnya pakai pendapatan, tapi sampai sekarang kan kita tidak punya data pendapatan," ujar Nashrul, dalam program Top Economy, Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 21.05 WIB di Metro TV.

Ia menerangkan, DTSEN pada awalnya dibentuk dari tiga sumber data, yakni P3KE, DTKS, dan Regsosek. Ketiga data tersebut kemudian digabungkan, diintegrasikan, dan disinkronisasi dengan data Dukcapil hingga menghasilkan DTSEN versi pertama.

Dalam DTSEN, lanjut Nashrul, terdapat berbagai variabel yang digunakan sebagai proksi untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Seluruh keluarga kemudian diurutkan berdasarkan proksi kesejahteraan tersebut dan dibagi menjadi 10 kelompok dengan jumlah yang sama besar.

"Intinya sebenarnya desil itu adalah pembagian seluruh masyarakat Indonesia, seluruh keluarga, menjadi 10 kelompok sama besar," jelasnya.

Top Economy, Selasa, 25 Agustus 2026. Foto: Metro TV

Nashrul menyebut, alasan pendapatan belum digunakan DTSEN karena lebih dari 50 persen pekerja berada di sektor informal. Pendataan pendapatan kelompok tersebut sangat sulit.

"Dan cenderungnya adalah kalau kita melihat data penghasilan, itu cenderung orang akan mengecil-ngecilkan penghasilannya," katanya.

Ia menambahkan, tanpa pendapatan, pengeluaran tetap bisa dijadikan model estimasi kesejahteraan. Menurutnya, pengeluaran kebutuhan pokok cenderung lebih homogen sehingga dapat menjadi indikator yang lebih baik dibandingkan data pendapatan yang sulit diperoleh.

"Lebih dari 30 variabel yang kita gunakan, salah satunya pengeluaran," ucapnya.

Perubahan Desil

Terkait perubahan desil di masyarakat, Nahrul menyebut desil bersifat relatif dan dinamis. Posisi desil seseorang dapat berubah seiring adanya pembaruan data.

Pembaruan tersebut memungkinkan adanya keluarga yang masuk ataupun keluar dari kelompok desil tertentu. Perubahan inilah yang dapat menyebabkan seseorang yang sebelumnya berada pada desil yang menjadi sasaran bantuan sosial kemudian berada pada desil berbeda.

"Desil ini dinamis, bisa jadi kasus itu (perubahan desil) terjadi. Desil ini kan dilakukan pemutakhiran secara berkala," ucapnya. Nashrul menegaskan desil tidak dapat secara sederhana diartikan sebagai kelompok orang kaya atau miskin. Desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan, sehingga posisi seseorang ditentukan dengan membandingkannya dengan seluruh keluarga dalam populasi.

"Karena yang namanya desil itu adalah pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan tadi, jadi, kita lihat konteksnya, konteks relatif," tuturnya.

(Muhamad Marup)