Petugas BPBD Kabupaten Banjar berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/agr
Kualitas Udara Kalteng Tidak Sehat, Jarak Pandang 2,8 Km
Silvana Febiari • 3 September 2026 17:42
Palangkaraya: Kualitas udara di Kalimantan Tengah (Kalteng) berada dalam kategori tidak sehat di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut turut berdampak pada jarak pandang yang hanya mencapai 2,8 kilometer.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan mengatakan pihaknya menemukan 72 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 739 hektare di Kalteng.
"Dan dari 739 hektare ini, sudah berhasil dipadamkan 459 hektar lebih dengan kualitas udara tidak sehat. Adapun jarak pandang hanya 2,8 km," kata Berton dalam konferensi pers penanganan karhutla, Kamis, 3 September 2026.
Untuk menangani kebakaran tersebut, satgas darat mengerahkan sekitar 10.700 personel. Tim tersebut bekerja bersama untuk memadamkan api di sejumlah lokasi yang terdampak karhutla.
"Luas lahan yang dipadamkan oleh satgas darat itu sebesar 450 hektar lebih," ujarnya.
Selain operasi darat, satgas udara melakukan patroli untuk memantau titik api baru maupun titik panas. Pemantauan dilakukan untuk menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Petugas juga mengerahkan satu unit untuk operasi water bombing. Air dicurahkan dari udara untuk membantu pemadaman di lahan yang terbakar.
"Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan sebanyak satu kali dengan menyebarkan 800 garam dengan jam operasi dua jam lebih," ungkap Berton.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan memaparkan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. (Dokumentasi/ YouTube BNPB Indonesia)
Berton mengatakan pemadaman di Kalteng terus dilakukan dengan memprioritaskan titik api yang masih aktif. Setelah api dipadamkan, petugas juga melakukan proses pendinginan untuk mencegah munculnya kembali api.
Menurutnya, lahan gambut memiliki karakteristik yang membuat api sulit dipastikan benar-benar padam. Api yang terlihat sudah padam masih dapat menyimpan panas di dalam gambut sehingga berpotensi kembali muncul.
"Api yang sudah dipadamkan belum tentu ini akan segera padam, karena gambut tadi membuat karakteristiknya ini membuat pemadaman sulit karena harus padam, mati, dingin, kemudian baru dipastikan bahwa itu berpotensi tidak muncul kembali," tuturnya.
Patroli dan water bombing diarahkan ke lokasi yang masih memiliki titik api. Sementara pemantauan udara tetap dilakukan di wilayah yang dianggap rawan.
Di tengah kondisi kualitas udara yang tidak sehat, aktivitas belajar mengajar di sekolah masih berjalan seperti biasa. BNPB menganjurkan masyarakat, termasuk pelajar, menggunakan masker dengan benar saat beraktivitas.
"Aktivitas masyarakat juga berjalan seperti biasa dan kami tetap menganjurkan untuk menggunakan masker," imbau Berton.