Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kedua kanan), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah), Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri), Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono (kanan) dan Mensesneg Prasetyo Hadi memberikan keterangan kepada wa
Bahlil Pastikan Stok LPG Aman di Atas 10 Hari
Fachri Audhia Hafiez • 8 April 2026 22:25
Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pasokan gas minyak bumi cair (liquefied petroleum gas/LPG) nasional saat ini dalam kondisi aman. Cadangan LPG di Tanah Air dilaporkan telah kembali stabil dan berada di atas ambang batas aman untuk konsumsi masyarakat.
"Saya menyampaikan bahwa masa sulit kita untuk LPG, sudah kita lewati sejak tanggal 4. Alhamdulillah, sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari," ujar Bahlil kepada awak media usai menghadiri Taklimat Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 8 April 2026.
Bahlil menjelaskan, kestabilan pasokan ini didorong oleh distribusi dari Australia, Amerika Serikat, dan beberapa negara produsen lainnya.
Hal ini membuat ketersediaan komoditas energi tersebut tidak terdampak secara signifikan oleh ketegangan geopolitik yang terjadi di Selat Hormuz. Saat ini, mayoritas impor LPG Indonesia sebesar 70-75 persen berasal dari AS, sementara Timur Tengah menyumbang sekitar 20 persen.
Selain membahas LPG, Bahlil juga menyinggung rencana penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi seperti RON 92 (Pertamax), 95, 98 (Pertamax Turbo), serta solar Pertamina Dex. Ia menyebutkan bahwa pemerintah masih melakukan penghitungan mendalam sebelum merilis harga baru.
"Sekarang kita masih melakukan exercise (penghitungan) dan mudah-mudahan doakan agar betul-betul harga ICP (Indonesian Crude Price) bisa turun. Itu akan jauh lebih baik lagi," ucap Bahlil.
.jpg)
Ilustrasi LPG/Pertamina.
Pemerintah terus berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero) serta pihak swasta untuk memastikan harga yang ditetapkan tetap kompetitif namun berkelanjutan bagi industri migas nasional.
Mengenai kendala dua kapal Pertamina yang masih tertahan dan belum dapat melintasi Selat Hormuz, Bahlil menyatakan pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan otoritas terkait. Momentum jeda eskalasi konflik di Timur Tengah selama dua pekan ke depan diharapkan menjadi titik terang bagi keselamatan logistik migas Indonesia.
"Dengan adanya jeda dua minggu daripada eskalasi di Timur Tengah, mudah-mudahan bisa cepat selesai," kata Bahlil.