Gangguan Atmosfer Picu Cuaca Ekstrem di NTB hingga 30 April

Ilustrasi hujan di Kendari Sulawesi Tenggara. ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra

Gangguan Atmosfer Picu Cuaca Ekstrem di NTB hingga 30 April

Lukman Diah Sari • 27 April 2026 18:45

Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi gangguan atmosfer yang memicu fenomena cuaca ekstrem di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) selama beberapa hari terakhir. Fenomena tersebut diprakirakan berlangsung hingga 30 April 2026 mendatang.

"Kami mengidentifikasi adanya perkembangan signifikan dalam dinamika atmosfer yang berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan," kata Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Satria Topan Primadi di Mataram, Senin, 27 April 2026, melansir Antara.

Satria mengatakan sejumlah faktor pemicu cuaca ekstrem berupa gelombang atmosfer Rossby Ekuator dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di wilayah Nusa Tenggara Barat. Kemudian, keberadaan daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin yang memperkuat pertumbuhan awan hujan skala lokal. Faktor tingginya kelembapan udara dari lapisan bawah hingga atas serta labilitas atmosfer yang kuat turut mendukung pembentukan awan konvektif yang menjadi penyebab hujan lebat.

"Kami mengimbau masyarakat agar selalu tenang, namun selalu waspada dan dapat mengambil langkah antisipatif agar aktivitas harian tetap dapat berlangsung aman dan lancar," ucap Satria.

Ilustrasi hujan lebat. (ANTARA FOTO)

BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi hampir di seluruh wilayah NTB yang meliputi Pulau Lombok, Sumbawa, hingga Bima. Adapun hujan lebat hingga sangat lebat diperkirakan terjadi di sebagian Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa, Dompu, dan Bima.

Satria mengungkapkan ada juga potensi gelombang laut dengan ketinggian 2,5 sampai 4 meter di perairan selatan NTB, termasuk Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, serta Samudera Hindia bagian selatan NTB.

"Waspada potensi gelombang laut tinggi karena dapat mengganggu aktivitas pelayaran kapal," ujar dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)