Penyuluh Agama Islam Beri Trauma Healing ke Penyintas Bencana di Bireuen

Trauma healing diberikan kepada masyarakat terdampak bencana di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Dok. Istimewa

Penyuluh Agama Islam Beri Trauma Healing ke Penyintas Bencana di Bireuen

Achmad Zulfikar Fazli • 9 January 2026 19:03

Jakarta: Penyuluh Agama Islam bersama lima guru madrasah memberikan pendampingan psikososial atau trauma healing kepada masyarakat terdampak bencana di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Program bantuan ini diikuti 80 anak dan 16 ibu rumah tangga.

Dalam program trauma healing ini, anak-anak diajak bermain, bernyanyi, dan menggambar. Permainan sederhana itu menjadi jalan untuk memulihkan kepercayaan diri dan menenangkan batin mereka.

Sementara itu, para ibu duduk berkelompok, berbagi cerita, menumpahkan kegelisahan yang selama ini terpendam. Salah satu Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bireuen, Mulyadi, mengatakan, pendampingan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak penyintas, terutama dari sisi kesehatan mental.

“Kami memberikan Psychological First Aid (PFA), dukungan psikologis awal agar penyintas merasa tenang, aman, dan tidak sendirian menghadapi situasi ini,” ujar Mulyadi dalam keterangannya, dilansir pada Jumat, 9 Januari 2026.

Selain PFA, tim memberikan Respons Awal Kesehatan Mental dan Psikososial. Para relawan dibekali kemampuan melakukan penilaian cepat terhadap kondisi mental penyintas, sehingga bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran. 

“Kami juga mengedukasi tentang kesehatan mental, mulai dari mengenali gejala hingga pertolongan pertama pada gangguan mental,” ujar Mulyadi.
 

Baca Juga: 

Ketersediaan Sumur Air Bersih bagi Warga di Aceh Tamiang Dikebut



Bagi para ibu rumah tangga, pendampingan menjadi ruang penguatan. Melalui konsep Keluarga Sakinah Maslahah, mereka diajak membangun kembali ketahanan keluarga, memperkuat komunikasi, dan saling menguatkan di tengah situasi krisis.

Materi coping strategy dan manajemen stres disampaikan melalui metode yang ringan, seperti permainan motivasi, role play, latihan relaksasi, hingga mindfulness.

“Kami ingin ibu-ibu pulang dengan bekal, bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keyakinan bahwa keluarga mereka mampu bangkit,” kata Mulyadi.



Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, mengatakan kegiatan ini bagian dari upaya jangka panjang Kementerian Agama dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana. Menurut dia, pendampingan psikososial penting agar penyintas tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga mental.

“Dengan pembekalan PFA dan rapid assessment, relawan diharapkan mampu memperkuat ketahanan psikososial masyarakat,” ujar Zudi.

Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan tawa dan pelukan. Di tengah keterbatasan, harapan kembali disemai. Dari permainan, cerita, dan kehadiran yang tulus, luka perlahan menemukan jalannya untuk pulih.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)