Antisipasi Puncak Kemarau Juli-Agustus 2026, Simak Daftar Wilayah Terdampak

Ilustrasi kemarau. Foto: Freepik

Antisipasi Puncak Kemarau Juli-Agustus 2026, Simak Daftar Wilayah Terdampak

Muhamad Marup • 19 June 2026 20:44

Jakarta: Sejumlah wilayah di Indonesia kini mulai merasakan teriknya sinar matahari yang menandai datangnya musim kemarau. Bagi masyarakat, terutama yang bergerak di sektor pertanian, pengelolaan air, dan kebencanaan, pertanyaan mengenai berapa lama durasi musim kering ini menjadi hal yang ramai dibicarakan.

Guna memberikan panduan dan langkah mitigasi bagi publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis data komprehensif mengenai musim kemarau Indonesia di tahun 2026.

Lantas, musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung sampai kapan? Berikut ini adalah informasinya.

Puncak Kemarau Terjadi pada Juli dan Agustus 2026

Berdasarkan analisis zona musim (ZOM) yang dirilis BMKG, awal musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara serentak, melainkan bergerak bertahap dimulai dari wilayah Indonesia bagian selatan yang berbatasan langsung dengan benua Australia.

Teuku Faisal selaku Kepala BMKG memaparkan bahwa puncak kemarau pada Juli mencakup 83 ZOM atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sedangkan pada Agustus mencakup 369 ZOM atau 48.84 persen luas daratan dan September mencakup 169 ZOM atau 25.41 persen luas daratan.

Faisal menambahkan pada Juli 2026, wilayah sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur akan mengalami puncak kemarau

Pada Agustus 2026, puncak musim kemarau diperkirakan melanda wilayah Sumatera bagian tengah, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sejumlah wilayah Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta mayoritas Papua.

Memasuki September 2026, sebanyak 169 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 25,41 persen wilayah daratan Indonesia diprediksi mencapai puncak kemarau. Daerah yang terdampak mencakup Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, mayoritas Maluku Utara, sebagian Maluku, serta wilayah tengah Papua Pegunungan.

Rincian Wilayah Puncak Musim Kemarau

Periode Juli 2026

  • Sebagian Sumatera
  • Sebagian kecil Kalimantan dan Jawa
  • Nusa Tenggara Timur bagian selatan
  • Sulawesi Barat bagian utara
  • Sulawesi Tengah bagian barat
  • Sebagian kecil Maluku
  • Papua Barat Daya bagian selatan
  • Papua Barat bagian tengah
  • Papua bagian timur

BMKG Makassar Imbau Petani Petakan Kawasan Rawan Krisis Air

Ilustrasi - Kekeringan. (ANTARA/Raisan Al Farisi/dok)

Periode Agustus 2026

  • Sumatera bagian tengah
  • Sebagian besar Jawa
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Sebagian Nusa Tenggara Timur
  • Sebagian besar Kalimantan
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian Maluku
  • Maluku Utara
  • Sebagian besar Pulau Papua

Imbauan BMKG untuk Beberapa Sektor Pekerjaaan


Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau sektor pertanian untuk menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, membutuhkan air lebih sedikit, dan memiliki masa tanam yang lebih singkat. Di sektor sumber daya air, langkah yang disarankan meliputi revitalisasi waduk, perbaikan jaringan distribusi, dan menjaga ketersediaan air bagi masyarakat. Selain itu, sektor energi diminta memastikan kecukupan pasokan air di bendungan untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pemerintah daerah juga diharapkan menyiapkan langkah respons cepat guna mengantisipasi penurunan kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

BMKG menegaskan bahwa kondisi cuaca yang lebih kering meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan perlu diperkuat melalui koordinasi antara BMKG, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)



(Eunike Michelle Gultom)

(Muhamad Marup)