BMKG: Embun Upas Dieng Diprediksi Lebih Sering di Kemarau 2026

Wisatawan berburu embun beku atau embun upas di Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (9/7/2026) pagi, saat suhu permukaan rumput di wilayah itu mencapai minus 6 derajat Celcius. ANTARA/HO-UPTD

BMKG: Embun Upas Dieng Diprediksi Lebih Sering di Kemarau 2026

Whisnu Mardiansyah • 18 July 2026 14:34

Semarang: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena embun beku atau embun upas di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, berpotensi lebih sering muncul sepanjang musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Guruh Tjiptanto menjelaskan bahwa suhu 0 derajat Celsius atau bahkan minus yang kerap dilaporkan saat embun upas terlihat bukanlah suhu udara, melainkan suhu minimum permukaan rumput yang diukur menggunakan termometer khusus.

"Suhu nol derajat atau minus memang terjadi, namun itu bukan suhu udara, melainkan suhu minimum rumput, yaitu termometer yang dipasang di permukaan rumput," kata Guruh saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, seperti dilansir Antara, Sabtu, 18 Juli 2026, 

Menurut dia, peluang kemunculan embun upas akan semakin besar jika sifat musim kemarau lebih kering atau berada di bawah kondisi normal.

"Semakin kemaraunya kering atau di bawah normal sifatnya maka kemungkinan embun upas akan lebih sering terjadi, apalagi ini belum di puncak kemarau. Puncak kemarau di Agustus nanti, bahkan di September pun masih kering kemaraunya," katanya.

 


Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus 2026

Ia menjelaskan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dan kondisi kering masih akan berlanjut hingga September. Karena itu, peluang terbentuknya embun upas diprediksi meningkat pada periode tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi lebih dingin dibandingkan musim kemarau 2025 maupun 2024, bahkan memiliki karakteristik yang hampir serupa dengan musim kemarau 2023 yang juga ditandai dengan kemunculan embun upas di kawasan Dieng.

"Peluang lebih dingin saat puncak kemarau sekitar Agustus. Pada Agustus hingga September 'mbediding' (fenomena saat suhu udara sangat dingin) akan lebih terasa," katanya.

Ia mengimbau wisatawan yang ingin menyaksikan embun upas agar mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian berlapis (layering system), mulai dari pakaian dalam termal, sweater, hingga jaket tebal tahan angin agar tetap hangat selama berada di kawasan Dieng.


Embun beku menyelimuti rerumputan di Banjarnegara, Jateng. (MGN/Fitri Nur Budianto)


Selain itu, wisatawan disarankan menggunakan penutup kepala yang menutup telinga, sarung tangan, syal, kaus kaki tebal, dan sepatu yang nyaman, serta memastikan kondisi tubuh dalam keadaan prima.

Bagi pengunjung yang memiliki riwayat asma, sinusitis, atau alergi terhadap udara dingin, diminta membawa obat-obatan pribadi atau inhaler.

Ia juga mengingatkan bahwa udara pegunungan pada musim kemarau sangat kering, sehingga pengunjung dianjurkan membawa pelembap kulit dan pelembap bibir untuk mencegah kulit atau bibir pecah-pecah.

"Bagi wisatawan yang ingin berburu embun upas di Dieng, fenomena tersebut umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan terlihat paling jelas di sekitar lapangan Kompleks Candi Arjuna pada pukul 04.00-06.00 WIB sebelum mencair saat matahari mulai meninggi," kata Guruh.

(Whisnu M)