Sebuah mural baru yang menampilkan Presiden Amerika Serikat (AS) berada di dalam peti mati di Teheran, Iran. Foto: Viory
Iran Pajang Mural Trump di Dalam Peti Mati saat Ketegangan Kian Memanas
Muhammad Reyhansyah • 16 July 2026 17:09
Teheran: Sebuah mural baru yang menampilkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berada di dalam peti mati dipasang di Lapangan Enghelab, Teheran, di tengah kembali meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.
Mural tersebut memuat tulisan "Kill Trump" dalam bahasa Persia dan Inggris. Dalam rekaman yang diambil Viory pada Rabu, 15 Juli 2026, mural tersebut terlihat mendominasi kawasan Lapangan Enghelab di Teheran.
Di sampingnya, terpasang sebuah spanduk bergambar nisan yang menampilkan foto mendiang Senator Partai Republik Amerika Serikat, disertai tulisan, "Impian kemenanganmu akan dikubur bersamamu."
Seorang warga yang diidentifikasi sebagai Zamani mengatakan mural tersebut membuatnya bangga menjadi warga Iran.
"Warga Iran tidak pernah kalah, dan Trump tidak bisa mendominasi Iran dengan mudah," katanya, dikutip dari Viory, Kamis, 16 Juli 2026.
Warga lainnya yang bernama Amir mengatakan mural tersebut mencerminkan sikap seluruh rakyat Iran.
"Terlepas dari perbedaan politik atau pilihan pribadi yang mereka miliki, pada akhirnya semuanya bermuara pada keinginan membalas Amerika dan Israel," ujarnya.
Ketegangan Iran-AS Memanas
Kemunculan mural itu terjadi setelah hubungan Washington dan Teheran kembali memanas.Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah lokasi di Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Militer Amerika Serikat pada Senin juga mengumumkan akan kembali memberlakukan blokade terhadap lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menolak langkah tersebut dengan menyebut jalur perairan itu sebagai "wilayah kami" dan menegaskan tidak akan membiarkan negara mana pun "melanjutkan campur tangan ilegalnya."
Iran dan Amerika Serikat sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni yang memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka jalan bagi perundingan.
Namun, setelah itu kedua negara saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut.