Bahlil Berencana Tambah Stok BBM dari 25 Hari Jadi 90 Hari

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: MI/Insi Nantika Jelita.

Bahlil Berencana Tambah Stok BBM dari 25 Hari Jadi 90 Hari

Eko Nordiansyah • 4 March 2026 09:42

Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan akan menambah kapasitas penyimpanan (storage) stok bahan bakar minyak (BBM), dari yang semula hanya 25–26 hari, menjadi 90 hari atau tiga bulan.

“Faktanya, ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25–26 hari, nggak lebih dari itu,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM, yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, dikutip dari Antara, Rabu, 4 Maret 2026.

Pernyataan tersebut merespons perbandingan antara ketahanan energi Indonesia dengan Jepang, dengan stok BBM Indonesia dapat bertahan dalam durasi kurang dari 30 hari. Sementara Jepang memiliki stok BBM untuk 254 hari ke depan.

Ketimpangan tersebut disebabkan oleh terbatasnya storage atau penyimpanan BBM yang dimiliki oleh Indonesia.

“Sekarang, kalau kita impor sebanyak itu (Jepang), kita mau taruh (BBM) di mana? Itu permasalahan kita,” ucap dia.

Oleh karena itu, lanjut Bahlil, pemerintah sedang berusaha untuk membangun storage yang kapasitasnya bisa mencapai 90 hari atau tiga bulan, agar selaras dengan standar internasional. Saat ini, studi kelayakan atau feasibility study ihwal pembangunan storage sedang berlangsung.

Bahlil menargetkan storage mulai dibangun pada 2026, dan direncanakan akan dibangun di Sumatra.

 

Stok minyak, BBM, hingga LPG aman

Untuk ketahanan minyak saat ini, Bahlil menyampaikan stok minyak mentah (crude), BBM, serta LPG rata-rata berada di atas standar minimum ketahanan nasional. Adapun standar minimum yang dipatok oleh pemerintah Indonesia adalah 23 hari.

“Jadi, menyangkut dengan persiapan hari raya Idulfitri, bulan puasa, alhamdulillah saya menyampaikan bahwa stok BBM, crude, LPG, itu semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” ucap Bahlil.

Ketahanan energi Indonesia menjadi sorotan masyarakat di tengah perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Media Iran melaporkan Selat Hormuz telah secara efektif ditutup, menyusul serangan dari AS-Israel. Meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.

Adapun Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)