Penetapan Status Darurat Kemunculan Api Misterius di Sleman Tunggu Tim Ahli

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro. ANTARA/Sutarmi

Penetapan Status Darurat Kemunculan Api Misterius di Sleman Tunggu Tim Ahli

Whisnu Mardiansyah • 4 June 2026 15:52

Sleman: Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih menantikan hasil kajian menyeluruh dari tim ahli sebelum memutuskan status tanggap darurat bencana khusus untuk penanganan lanjutan fenomena kemunculan api misterius di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Bambang Kuntoro, menyampaikan pihaknya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan sebelum ada kepastian ilmiah mengenai penyebab munculnya api yang telah terjadi lebih dari 90 kali sejak Jumat, 23 Mei 2026.

"Kami wajib bertindak berdasarkan data yang valid. Apakah nantinya diperlukan pengungsian, evakuasi lokasi, atau langkah-langkah lainnya, semua itu bergantung pada rekomendasi hasil penelitian dari para pakar," ujar Bambang di Sleman, seperti dilansir Antara, Kamis, 4 Juni 2026.

Bambang mengungkapkan penanganan fenomena yang dialami keluarga Muftiana ini melibatkan tim gabungan lintas instansi. Tim tersebut terdiri atas para pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
 


Analisis difokuskan pada kemungkinan faktor pemicu kebakaran, baik dari unsur gas, kondisi geologi, maupun aspek lingkungan lainnya. Bambang menyebutkan hasil kajian nantinya akan dirumuskan sebagai acuan bagi pemerintah daerah dalam menetapkan status tanggap darurat khusus.

"Kami berencana segera melaporkan perkembangan situasi ini kepada Bupati Sleman guna memastikan penanganan yang tepat sasaran," katanya.

Untuk merespons kondisi darurat di lokasi, BPBD Sleman bersama instansi terkait telah menjalankan berbagai langkah penanganan. Beberapa di antaranya adalah penyiagaan respons cepat dengan menyediakan unit pemadam kebakaran dan tim relawan yang siaga di lokasi kejadian.


Fenomena kemunculan api di salah satu rumah di Kabupaten Sleman. Dokumentasi UGM

"Selain itu, kami memberikan pendampingan psikologis melalui Dinas Kesehatan bagi keluarga yang mengalami trauma. Kami juga menyalurkan bantuan pangan serta kebutuhan dasar seperti matras, selimut, dan tempat tidur," jelas Bambang.

Muftiana, pemilik rumah, mengaku masih diliputi rasa cemas. Ia dan keluarganya terpaksa berjaga secara bergantian selama 24 jam penuh untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran susulan yang sewaktu-waktu dapat menghanguskan perabotan rumah tangga mereka.

"Kami berharap hasil penelitian segera keluar agar ada kepastian. Harapan kami hanya satu, bisa kembali tinggal dengan tenang tanpa rasa takut," tutur Muftiana.

(Whisnu M)