Galon guna ulang menjadi salah satu sumber paparan Bisphenol A (BPA) yang perlu diwaspadai, terutama oleh perempuan yang sedang merencanakan kehamilan maupun ibu hamil. (Ilustrasi/Istimewa)
Ibu Hamil Waspadai Paparan BPA Galon Guna Ulang, Pakar Kaitkan dengan Risiko Gangguan Hormon Anak
Patrick Pinaria • 8 June 2026 10:00
Jakarta: Upaya mencegah pubertas dini pada anak perlu dilakukan jauh sebelum anak dilahirkan, yaitu sejak saat orang tua merencanakan kehamilan. Selain pola asuh dan pemenuhan gizi, perhatian terhadap paparan zat kimia yang dapat mengganggu sistem hormon, seperti Bisphenol A (BPA) dari galon dan kemasan plastik makanan-minuman yang digunakan ulang, menjadi bagian penting dari persiapan kehamilan.
Hal itu disampaikan pakar obstetri dan ginekologi Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG dalam Podcast Raditya Dika dengan teman “Akibat Puber Terlalu Cepat.”
Prof. Budi menegaskan kehamilan tidak seharusnya terjadi tanpa perencanaan. “Kehamilan itu harus direncanakan. Enggak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan,” ujarnya.
Kehamilan yang direncanakan itu penting untuk memastikan orangtua melakukan langkah-langkah pencegahan agar anak tidak terpapar zat berbahaya sejak dalam kandungan. Salah satunya, paparan zat pengganggu hormon yang sangat perlu dihindari sebelum dan selama kehamilan, terutama pada fase awal.
"BPA atau Bisphenol A merupakan zat yang harus diperhatikan. Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, dia tidak boleh terekspos dengan zat itu,” katanya.
BPA dari galon tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan konsumsi anak, tetapi juga kesiapan keluarga sejak sebelum anak lahir. BPOM RI telah menetapkan batas migrasi maksimal 0,6 bagian per juta atau mg/kg dalam kemasan pangan.
Lebih lanjut Prof. Budi menjelaskan mengenai program Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), yaitu “Selamatkan Perempuan Indonesia." Program tersebut menaruh perhatian pada kesehatan perempuan harus dibangun dari hulu hingga hilir.
“Selamatkan Perempuan Indonesia mulai dari hulu sampai ke hilir, mulai dari perencanaan kehamilan. Persiapan tidak cukup dimulai saat bayi lahir. Seribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan. Termasuk menghindari BPA, termasuk endocrine disrupting chemical (zat kimia pengganggu hormon) lainnya,” katanya.
Risiko paparan itu juga dikaitkan dengan kesehatan reproduksi anak di kemudian hari. Ibu hamil yang terpapar zat pengganggu hormon pada tiga bulan pertama dapat membawa risiko bagi anak yang dikandungnya.
"Gangguan kesehatan tersebut yaitu berupa kista endometriosis, kista coklat, PCOS, hingga kanker," kata Prof. Budi.
Peran Orangtua pada Pencegahan Pubertas Dini Anak
Dari sisi psikologi, Psikolog Ratih Zulhaqqi M.Psi menilai pencegahan pubertas dini juga berhubungan dengan kesiapan menjadi orangtua.
“Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas saja. Justru dari sebelum-sebelumnya kan, ketika mereka mau jadi orang tua,” ujarnya.
Ratih mengatakan orangtua perlu memahami kebutuhan dasar anak. "Penting mengatur jam tidur, jam makan, dan apa yang dikonsumsi anak, termasuk menghindari zat seperti BPA," katanya.
Dapat disimpulkan, pesan yang mengemuka dari para pakar adalah bahwa kesehatan reproduksi anak dibentuk jauh sebelum mereka memasuki masa pubertas. Perencanaan kehamilan yang matang, pengurangan paparan zat kimia pengganggu hormon seperti BPA, serta pola asuh yang memperhatikan kebutuhan fisik dan psikologis anak menjadi fondasi penting untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal. Dengan pendekatan tersebut, risiko pubertas dini dan berbagai gangguan kesehatan reproduksi anak di kemudian hari diharapkan dapat diminimalkan.