Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Krisis Sampah dan Iklim Jadi Sorotan

Ilustrasi Pexels

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Krisis Sampah dan Iklim Jadi Sorotan

Muhamad Marup • 5 June 2026 17:31

Jakarta: Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati tiap 5 Juni 2026. Dalam peringatan momen tersebut, Pakar lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (UNAIR), Nur Indradewi Oktavitri, menyoroti perihal krisis sampah dan iklim.

Lingkungan sudah menjadi suatu bagian penting dalam menemani kehidupan sehari-hari. Dalam peringatannya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 diperingati setiap tanggal 5 Juni 2026 dengan tema climate action atau aksi iklim. Pakar lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR), Nur Indradewi Oktavitri (Nio) turut menyampaikan pesannya. 

Nio mengatakan, setiap hari sampah terus melimpah. Jika tidak tertangani akan mencemari kualitas lingkungan di berbagai sektor seperti udara, air, dan sebagainya.

Ia menilai perlu adanya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sehingga menciptakan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik. Menurutnya, akar masalah sampah terpusat pada budaya pengelolaan sampah yang kurang serius.

"Contohnya saat ini mikroplastik sudah banyak tercemar baik itu udara maupun air, sehingga dapat merusak estetika serta keberlanjutan hidup manusia di masa mendatang," ujar Nio, mengutip laman resmi UNAIR, Jumat, 5 Juni 2026.

Sanksi Pemilahan Sampah Sudah Sesuai, Pakar Ingatkan Peningkatan Fasilitas

Ilustrasi Pexels

Mitigasi Krisis Iklim

Nio juga menyinggung krisis iklim yang sudah berulang kali terjadi di Indonesia memerlukan mitigasi yang tepat sehingga mampu memprediksi cuaca yang fluktuatif. Ia mencontohkan, weather forecast yang dapat memprediksi cuaca, sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan.

"Perubahan iklim ini memang tidak bisa kita hindari, tetapi dapat kita cegah dengan mengelola lingkungan lebih baik," jelasnya.

Selain itu, lanjut ia, terdapat ancaman lingkungan yang perlu menjadi sorotan dalam atau jangka waktu panjang adalah mikropolutan. Mikropolutan sendiri adalah zat pencemar dengan ukuran yang sangat kecil atau mikro.

"Ilmu ini masih belum banyak dibahas di Indonesia, tetapi memerlukan perhatian bila tidak ditangani dan berpotensi buruk serta terakumulasi di lingkungan kedepannya," katanya.

Mulai dari Hal Kecil

Nio mengungkapkan, langkah konkret yang dapat dilakukan saat ini dengan cara sederhana, yaitu memanfaatkan sosial media sebagai tempat untuk mempromosikan lingkungan hijau. Contohnya memilah atau mengelola sampah, urban farming, dan lainnya. Ia menilai, pemerintah juga dapat memberikan reward kepada wilayah yang berhasil menghijaukan lingkungan sekitarnya. Selain bentuk apresiasi, hal tersebbut penting untuk memotivasi masyarakat.

"Karena apa yang kita mulai dari satu langkah kecil, bisa menjadi perubahan besar bagi generasi mendatang," ucapnya.

(Muhamad Marup)