Forum Pasar Modal ICMSS 2026 Kupas Tuntas Danantara, Kripto, dan Masa Depan IHSG

The 25th ICMSS (International Capital Market Seminar) telah diselenggarakan pada 5–6 Februari 2026 di Jakarta (Foto:Dok)

Forum Pasar Modal ICMSS 2026 Kupas Tuntas Danantara, Kripto, dan Masa Depan IHSG

Rosa Anggreati • 9 February 2026 12:35

Jakarta: The 25th ICMSS (International Capital Market Seminar) telah diselenggarakan pada 5–6 Februari 2026 di Jakarta. Forum pasar modal internasional yang diinisiasi Indonesia Capital Market Student Studies (ICMSS) ini mengangkat tema besar “The Diverged Trajectory: Reinstating Sovereignty Through Global Disparity,” dengan fokus pada penguatan kedaulatan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

ICMSS merupakan wadah edukasi pasar modal bagi investor muda, baik internal maupun eksternal, yang berlandaskan nilai PROFGAN: Professionalism, Family, and Elegance. Dalam rangkaian besarnya, ICMSS menghadirkan tiga agenda utama, yakni Investment Training, International Capital Market Seminar, dan Equity Research Conference.

Pada hari pertama, International Capital Market Seminar menghadirkan tiga sesi strategis yang membahas sovereign wealth fund Danantara, ketahanan pasar saham Indonesia, hingga lanskap investasi modern dan kripto.
 


Sesi pertama bertajuk “From Vision to Value: How Danantara Drives Indonesia’s Growth Strategy” menghadirkan Randa Silvano Bangun selaku Senior Vice President Investments at Danantara Indonesia, bersama Fidel Ramos Sinaga dan Harry Aginta. Diskusi menyoroti peran Danantara sebagai sovereign wealth fund dalam mendorong strategi pertumbuhan jangka panjang Indonesia. Termasuk pembiayaan proyek strategis nasional, reformasi struktural, tata kelola, serta keberlanjutan fiskal. Danantara dinilai berpotensi menjadi pilar ketahanan dan daya saing ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Berlanjut pada sesi kedua mengangkat tema “Broadening Horizons: Navigating Resilience in Indonesia’s Equity Market” dengan menghadirkan Andre Simangunsong, Mark Bruny, dan Genta Wira Anjalu. Pembahasan difokuskan pada ketahanan pasar saham Indonesia di tengah konsentrasi saham berkapitalisasi besar. Para pembicara menyoroti pentingnya kebijakan makroekonomi yang adaptif, peran regulator, serta strategi investasi untuk menciptakan pasar yang lebih seimbang dan inklusif.

Sementara itu, sesi ketiga bertema “Redefining Value in the New Investment Landscape” menghadirkan Jeffry Jouw, Emir Parengkuan, Faza Verdhana, dan James Eugene. Diskusi menekankan urgensi literasi keuangan, manajemen risiko, serta keseimbangan antara stabilitas, inovasi, dan makna personal dalam lanskap investasi modern yang terus berubah.

President of the 25th ICMSS Falito Villienuve Tandra menegaskan bahwa ICMSS menjadi wadah pertukaran gagasan strategis yang membahas isu pasar modal, makroekonomi, hingga sektoral dengan menghadirkan akademisi, profesional, dan regulator. 

"Kami berharap hasil diskusi mampu memberikan insight relevan bagi pemangku kebijakan dan dapat berkontribusi dalam perumusan regulasi ke depan," ucap Falito Villienuve Tandra.



Dari sisi outlook pasar, Vice President of Business Development Indodax James Eugene memproyeksikan pertumbuhan akun kripto hingga sekitar 20 juta akun pada periode 2025–2026. Meski demikian, ia mengingatkan adanya sinyal pelemahan makroekonomi pada paruh pertama tahun serta ketidakpastian di paruh kedua yang membuat potensi rebound pasar belum dapat dipastikan.

Menanggapi pergerakan IHSG, Co-Founder Revalue Academy Faza Verdhana menyampaikan bahwa penurunan indeks lebih dipengaruhi faktor teknikal, seperti penyesuaian regulasi MSCI, bukan persoalan struktural ekonomi nasional. Ia menilai kondisi tersebut justru menjadi peluang agar pasar Indonesia dapat dinilai lebih positif oleh MSCI dan investor global, serta tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Memasuki hari kedua pada 6 Februari 2026, seminar berlanjut ke sesi keempat bertema “Bullion Banks: A Strategic Initiative for Indonesia’s Economic Strengthening.” Sesi ini menghadirkan Chief Executive Officer PT Hartadinata Abadi Tbk, Sandra Sunanto; Head of PVML Development Directorate Samahari Gumawan; serta Chief Financial & Strategy Officer PT Pegadaian Ferdian Timur Satyagraha.
 
Diskusi menyoroti pengembangan ekosistem usaha bulion di Indonesia melalui penguatan regulasi, optimalisasi peran emas dalam sistem keuangan, serta dukungan terhadap hilirisasi dan pendalaman pasar keuangan nasional. Kehadiran bullion bank dinilai strategis dalam meningkatkan likuiditas, transparansi harga, serta memperluas akses masyarakat terhadap investasi emas.

Dalam sesi doorstep interview, Samahari Gumawan menegaskan bahwa emas tidak hanya berperan sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga alternatif investasi jangka panjang yang semakin relevan, khususnya bagi generasi muda. Ia menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap produk emas, mulai dari proses perolehan, karakteristik, hingga kesesuaiannya dengan profil risiko investor.

Samahari juga menyoroti peran digitalisasi dalam mendorong pertumbuhan investasi emas ritel di Indonesia, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko dan keamanan siber. 

"Investor diharapkan tidak terjebak fenomena fear of missing out (FOMO), memilih penjual yang kredibel, serta menjadikan edukasi sebagai fondasi utama dalam berinvestasi," kata Samahari.

Sebagai penutup rangkaian International Capital Market Seminar, Sim Invest menghadirkan sesi spesial yang mengedukasi peserta mengenai fitur dan keunggulan investasi melalui platform digital.

Rangkaian The 25th ICMSS akan dilanjutkan dengan Equity Research Conference pada 9–11 Februari 2026. 

Melalui diskusi komprehensif mengenai Danantara, IHSG, kripto, hingga bullion bank, ICMSS 2026 menegaskan perannya sebagai forum strategis dalam memperkuat literasi pasar modal sekaligus mendorong kedaulatan ekonomi Indonesia di tengah disparitas global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)