Ikatan Pilot Indonesia menggelar konferensi pers terkait tragedi peristiwa penembakan terhadap pesawat komersial maskapai Smart Air di Bandara Korowai Batu, Distrik Kombai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Ikatan Pilot Minta Bandara Berisiko Gangguan Keamanan Tinggi Ditutup
Hendrik Simorangkir • 12 February 2026 15:31
Tangerang: Ikatan Pilot Indonesia meminta Komite Nasional Keamanan Penerbangan untuk menghentikan sementara operasional bandara yang memiliki risiko keamanan tinggi bagi penerbangan. Permintaan ini menyusul insiden penembakan terhadap pesawat komersial Smart Air di Bandara Korowai Batu, Distrik Kombai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Ketua Ikatan Pilot Indonesia, Muammar Reza Nugraha, menyampaikan permintaan tersebut sebagai langkah pencegahan agar tragedi serupa tidak terulang. Ia meyakini seluruh pihak saat ini tengah berupaya maksimal menangani situasi pascainsiden.
"Permintaan khusus kami kepada KNKP sekali lagi sebagai langkah pencegahan. Langkah pencegahan agar kejadian ini bisa diredam atau tidak terulang lagi. Semenjak terjadinya tragedi ini kami percaya bahwa seluruh pihak saat ini sedang berupaya maksimal," ujar Reza dalam konferensi pers di wilayah Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis, 12 Februari 2026.
Reza menjelaskan, Ikatan Pilot Indonesia telah melakukan berbagai kajian dan upaya untuk meminta perbaikan keamanan penerbangan, khususnya di daerah dengan risiko keamanan tinggi seperti Papua. Pihaknya mengimbau seluruh pilot Indonesia, terutama yang bertugas di wilayah rawan, untuk meningkatkan kewaspadaan dan saling menjaga.
"Kami mengimbau kepada seluruh pilot Indonesia, khususnya yang bertugas di daerah yang memiliki risiko keamanan tinggi, untuk meningkatkan kewaspadaan dan saling menjaga dalam situasi seperti ini," kata Reza.
Dewan Kehormatan Ikatan Pilot Indonesia, Kapten Ramanoya, menyampaikan hal senada terkait keamanan penerbangan di Papua. Ia mengungkapkan bahwa dalam berbagai pertemuan, pihaknya telah memberikan rekomendasi kepada pemangku kepentingan terkait, termasuk TNI dan Kementerian Perhubungan, mengenai keamanan penerbangan di wilayah tersebut.
"Semoga ini menjadi yang terakhir, dan diharapkan ada penanganan yang lebih serius dan komprehensif sehingga bisa benar-benar mewujudkan situasi penerbangan yang menjaga keamanan untuk pilot saat bertugas di Tanah Papua maupun di seluruh wilayah NKRI," jelas Ramanoya.
.jpg)
Pesawat Smart Air dengan nomor penerbangan PK-SNR ditembak KKB di Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Kamis (11/2). ANTARA/HO/Dokumentasi
Kronologi Insiden Penembakan
Insiden penembakan terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, sekitar pukul 11.00 WIT. Pesawat Smart Air dengan nomor registrasi PK-SNR jenis Cessna Caravan terbang dari Bandara Tanah Merah, ibu kota Kabupaten Boven Digoel, menuju Bandara Korowai Batu di Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Pesawat mengangkut 13 penumpang yang seluruhnya merupakan warga setempat, termasuk seorang bayi. Setibanya di lokasi, pesawat mendarat dan terparkir di apron. Para penumpang telah turun dari pesawat ketika tiba-tiba rentetan tembakan dilepaskan dari arah hutan sekitar bandara.
Dalam situasi kacau tersebut, pilot Egon Erawan dan kopilot Baskoro berusaha menyelamatkan diri menyusul penumpang yang berlari menuju hutan. Namun, keduanya dikejar oleh pelaku, kemudian dibawa kembali ke lapangan terbang dan dieksekusi di area landasan. Seluruh 13 penumpang dilaporkan selamat.
Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka, Sebby Sambom, menyatakan kelompoknya bertanggung jawab atas insiden ini. Serangan dilakukan oleh kelompok TPNPB-OPM wilayah Yahukimo pimpinan Elkius Kobak dan komandan operasi Kopitua Heluka.