Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul. Foto: Anadolu
Jerman Desak Iran Ubah Haluan, Peringatkan Konsekuensi Sanksi Lebih Berat
Fajar Nugraha • 30 January 2026 19:51
Brussels: Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, pada Kamis, 29 Januari, mengeluarkan peringatan keras kepada Iran untuk segera mengubah arah kebijakan luar negerinya dan menanggapi kekhawatiran Barat terkait program nuklir. Peringatan ini muncul di tengah upaya Uni Eropa untuk meningkatkan tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Teheran.
Wadephul mengatakan bahwa negara-negara anggota Uni Eropa akan membahas sanksi yang lebih berat dalam pertemuan di Brussels.
"Pemerintah Jerman sangat mendukung pencantuman Korps Garda Revolusi ke dalam rezim sanksi terorisme. Saya yakin kesepakatan bersama mengenai hal ini akan tercapai hari ini," tegas Wadephul, seperti dikutip Anadolu, Jumat, 30 Januari 2026.
Wadephul menekankan bahwa Iran harus memahami konsekuensi dari tindakan mereka, terutama terkait respons keras pemerintah terhadap pengunjuk rasa anti-pemerintah yang dinilai tidak dapat diterima. Jerman mendesak adanya kesepakatan baru yang mencakup pembatasan program rudal serta kemampuan senjata nuklir Iran.
Terkait ancaman serangan militer dari Presiden AS Donald Trump, Wadephul enggan berspekulasi lebih jauh namun meminta Teheran memanfaatkan peluang diplomatik yang ada.
"Presiden AS telah mengisyaratkan bahwa kesepakatan dapat dicapai pada poin-poin utama, yang mana poin tersebut juga sejalan dengan apa yang diajukan oleh negara-negara Eropa (format E3)," tambahnya.
Pernyataan Jerman ini dilatarbelakangi oleh gelombang protes besar di Iran akibat anjloknya nilai mata uang rial dan memburuknya kondisi ekonomi. Teheran menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut guna menciptakan alasan untuk intervensi asing.
Sebaliknya, kekuatan Barat menuding Iran tengah membangun senjata nuklir, klaim yang selalu dibantah oleh Teheran dengan alasan kebutuhan energi sipil. Ketegangan di kawasan mencapai titik didih baru setelah AS membom tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 selama perang 12 hari antara Iran dan Israel.
Jerman berharap kesepakatan damai dapat tercapai untuk menghindari konflik bersenjata lainnya yang dapat mengguncang stabilitas global.
(Kelvin Yurcel)