Ruang Digital Jadi Alat Perluas Eksistensi Budaya Indonesia

Ilustrasi budaya Indonesia. Foto: Metro TV/Muhammad Iqbal Sidiq.

Ruang Digital Jadi Alat Perluas Eksistensi Budaya Indonesia

M Sholahadhin Azhar • 7 July 2026 12:35

Jakarta: Ruang digital dapat menjadi alat untuk memperluas eksistensi budaya Indonesia. Sehingga, dapat bersaing di tingkat global.

"Budaya lokal memiliki kemampuan untuk terus hidup apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ruang digital justru membuka peluang," kata Kepala Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Prima Mulyasari Agustini, dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 Juli 2026.

Hal itu diungkap Prima, sebagai fokus utama Webinar Contemporary Digital Culture 2026, yang digelar Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie. Agenda bertema Strategi Komunikasi dan Tantangan Ketahanan Budaya Lokal di Ruang Digital itu bakal digelar Jumat, 10 Juli 2026. 

Menurut Prima, ruang digital dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan mengembangkan kekayaan budaya Indonesia. Khususnya, kepada audiens yang jauh lebih luas.
 


"Yang dibutuhkan adalah strategi komunikasi yang tepat agar teknologi dan budaya dapat tumbuh secara berdampingan," kata Prima.

Webinar menghadirkan dua akademisi yang memiliki rekam jejak kuat di bidang komunikasi dan budaya digital. Mereka adalah praktisi komunikasi Hany Nurahmawati, yang fokus pada dinamika komunikasi lintas budaya, branding, digital media, serta perubahan perilaku masyarakat dalam ekosistem digital.

Kemudian, pakar branding dan komunikasi pemasaran Bambang Sukma Wijaya. Bambang fokus pada industri periklanan, mengulas perkembangan artificial intelligence, hingga praktik komunikasi modern.

Dosen Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Eli Jamilah Miharja membeberkan webinar tersebut juga mengulas berbagai fenomena, yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Seperti, disinformasi, cyberbullying, echo chamber akibat algoritma media sosial, hingga menurunnya kualitas ruang publik digital.


Akademisi Universitas Bakrie. Foto: Istimewa

Para narasumber menekankan pentingnya literasi digital sebagai fondasi. Terutama, untuk membangun masyarakat yang kritis, inklusif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

"Karena itu, pendekatan akademik melalui riset menjadi penting agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa mengikis nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa," kata Eli.

Diskusi dalam webinar dibagi ke dalam dua sesi yang membahas berbagai perkembangan budaya digital kontemporer, mulai dari komunikasi lintas budaya, branding di era AI, perubahan perilaku masyarakat digital, hingga strategi mempertahankan identitas budaya Indonesia di tengah globalisasi.

Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie menargetkan sekitar 200 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi komunikasi, pegiat budaya, serta masyarakat umum. Melalui forum ini, Universitas Bakrie berharap dapat memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan praktisi dalam menghasilkan rekomendasi berbasis riset yang mampu menjawab berbagai tantangan komunikasi di era digital.

Webinar Contemporary Digital Culture 2026 menjadi bagian dari komitmen Universitas Bakrie dalam menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang relevan dengan perkembangan teknologi sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan literasi digital dan ketahanan budaya Indonesia.

(M Sholahadhin Azhar)