PIER memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,26 persen sepanjang 2026. Foto: dok PIER.
PIER: Investasi Menguat, Ekonomi Indonesia 2026 Diproyeksi Tumbuh 5,26%
Husen Miftahudin • 11 August 2026 12:24
Jakarta: Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,26 persen secara tahunan (yoy) sepanjang 2026. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada 2025 yang mencapai 5,11 persen.
Proyeksi tersebut disampaikan PIER setelah mencermati kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026. Perekonomian nasional tumbuh 5,29 persen yoy pada periode tersebut, melambat dari 5,61 persen yoy pada kuartal I-2026.
"Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 tetap resilien di kisaran 5,26 persen (yoy), meningkat dibandingkan 5,11 persen (yoy) pada 2025," ungkap Chief Economist Permata Bank Josua Pardede dalam analisis PIER, Selasa, 11 Agustus 2026.
"Pergeseran peran antarmesin pertumbuhan yang lebih seimbang menjadi salah satu penopang keyakinan tersebut. Namun demikian, tantangan fiskal yang disinggung sebelumnya diperkirakan turut menahan momentum pertumbuhan pada kuartal III dan IV-2026, meski laju pertumbuhan diperkirakan tetap berada di atas ambang batas lima persen," tambah Josua.
Investasi mulai perkuat mesin pertumbuhan
Ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45 persen yoy, meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 5,00 persen.
PIER melihat terdapat perubahan komposisi mesin pertumbuhan pada kuartal II-2026. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar, tetapi perannya mulai melandai. Pada saat yang sama, investasi menunjukkan penguatan.
"Pola pertumbuhan kuartal II-2026 menunjukkan bahwa mesin ekonomi Indonesia mulai lebih seimbang. Saat konsumsi rumah tangga melandai secara musiman usai Lebaran, investasi justru menguat dan menjaga momentum pertumbuhan tetap solid di atas lima persen," kata Josua.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan sumber pertumbuhan ekonomi mulai lebih beragam. Namun, kesinambungan investasi tetap perlu dijaga di tengah tantangan ekonomi global.
Konsumsi rumah tangga melambat
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen yoy pada kuartal II-2026, melambat dari 5,52 persen yoy pada kuartal sebelumnya.
Meski mengalami perlambatan, konsumsi masyarakat masih relatif terjaga. PIER mengaitkan kondisi tersebut dengan musim libur sekolah, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta perkembangan ekonomi digital.
Belanja pemerintah juga mencatat pertumbuhan 15,97 persen yoy pada kuartal II-2026. Angka tersebut melambat dari 21,81 persen yoy pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan belanja pemerintah antara lain didukung pencairan gaji ke-13 aparatur sipil negara serta keberlanjutan program MBG.
Di tengah moderasi konsumsi, investasi yang tercermin melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami penguatan. PIER mencatat PMTB tumbuh 6,87 persen yoy pada kuartal II-2026, meningkat dari 5,96 persen yoy pada kuartal sebelumnya. Penguatan tersebut terjadi pada hampir seluruh kategori aset, kecuali mesin dan perlengkapan.
Investasi bangunan dan struktur tumbuh 6,61 persen yoy, meningkat dari 5,29 persen yoy pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didukung pelaksanaan sejumlah proyek infrastruktur pemerintah, termasuk pembangunan infrastruktur Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Inflasi dukung daya beli
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan daya beli masyarakat masih mendapat dukungan dari inflasi yang relatif terkendali.
"Daya beli masyarakat tertopang oleh inflasi yang mereda menjadi 2,88 persen yoy pada Juli 2026, seiring keputusan pemerintah untuk mempertahankan subsidi energi di tengah lonjakan harga energi global," ujar Faisal.
Namun, Faisal menilai kebijakan subsidi energi perlu dicermati karena ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pada semester II-2026.
Dari sisi lapangan usaha, sektor jasa menjadi salah satu penggerak utama ekonomi pada kuartal II-2026. Sektor Listrik dan Gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81 persen yoy, berbalik dari kontraksi 0,99 persen yoy pada kuartal sebelumnya.
Sebaliknya, sektor Pertambangan dan Penggalian mengalami kontraksi 1,64 persen yoy. PIER mengaitkan kondisi tersebut dengan keterlambatan persetujuan rencana kerja tambang dan gangguan operasional di Papua.
Industri Pengolahan atau manufaktur yang menjadi kontributor terbesar PDB juga mengalami perlambatan. Sektor tersebut tumbuh 4,52 persen yoy, turun dari 5,04 persen yoy pada kuartal sebelumnya.
Meski demikian, sejumlah subsektor berorientasi ekspor, seperti tekstil dan pakaian serta furnitur, mencatat penguatan. Secara kumulatif pada semester I-2026, sektor jasa tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan. Sektor Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 11,83 persen yoy.

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
PMI Manufaktur mulai pulih
Head of Industry and Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi menilai kenaikan PMI manufaktur pada Juli menjadi sinyal positif bagi pemulihan sektor industri.
"Dari sisi manufaktur, pemulihan Purchasing Managers' Index (PMI) ke 50,2 pada Juli 2026 menjadi sinyal positif setelah sempat terkontraksi pada Juni 2026," ujar Adjie.
Dia juga mencermati penguatan sejumlah subsektor berorientasi ekspor, seperti tekstil dan alas kaki. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang diversifikasi sumber pertumbuhan industri di tengah tekanan sektor pertambangan.
Risiko eksternal masih membayangi
PIER menilai sejumlah risiko eksternal masih perlu diantisipasi meski prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif.
Pertumbuhan dari perdagangan luar negeri berpotensi melemah di tengah tingginya ketidakpastian global. Faktor yang menjadi perhatian mencakup perang dagang berkepanjangan, ketegangan geopolitik, serta pemulihan ekonomi Tiongkok yang masih tertahan.
Kondisi tersebut berpotensi memperlebar defisit kembar atau twin deficits Indonesia, baik melalui defisit transaksi berjalan maupun defisit fiskal. Pelebaran defisit dapat meningkatkan risiko penghindaran aset berisiko dan arus keluar modal asing.
Menurut PIER, konsistensi investasi serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dengan fondasi yang lebih seimbang dan berkelanjutan di tengah dinamika eksternal.