Waspada Virus Nipah, Dinkes Yogyakarta Perkuat Surveilans

Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data, dan Sistem Informasi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana. Dokumentasi/Humas Pemkot Yogyakarta

Waspada Virus Nipah, Dinkes Yogyakarta Perkuat Surveilans

Ahmad Mustaqim • 5 February 2026 19:34

Yogyakarta: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyatakan telah melakukan langkah antisipasi untuk mencegah masuknya virus nipah. Meski belum ada laporan kasus di Indonesia, kewaspadaan ditingkatkan mengingat virus ini pernah terdeteksi di sejumlah negara tetangga.

Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, menekankan bahwa secara geografis, Indonesia berdekatan dengan negara-negara yang pernah melaporkan kasus Nipah, seperti Malaysia, Filipina, Bangladesh, dan India. Kasus pertama virus ini tercatat di Malaysia pada 1998-1999.

"Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp)," ujar Solikhin di Yogyakarta, Kamis, 5 Februari 2026.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama terkait keberadaan reservoir alami dan mobilitas penduduk dari wilayah yang pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Nipah. Untuk itu, Dinkes Kota Yogyakarta memperkuat sistem surveilans kesehatan, khususnya pemantauan gejala klinis yang mengarah pada infeksi virus tersebut.

Surveilans mencakup pemantauan gejala mirip influenza (Influenza Like Illness/ILI), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berat, dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di seluruh puskesmas. Hingga saat ini, belum ditemukan tren peningkatan kasus yang mengarah pada Nipah.

"Memang sempat ada kenaikan kasus ISPA saat isu ‘super flu’ akhir tahun lalu, tetapi tidak signifikan dan tidak mengarah ke Nipah," ujarnya.
 


Solikhin menjelaskan gejala klinis virus Nipah umumnya diawali demam tinggi akut, yang dapat berkembang menjadi gangguan saraf seperti penurunan kesadaran dan kejang. Virus ini juga dapat menyerang otak dengan tingkat fatalitas mencapai 40 hingga 75 persen.

"Gejala yang mengarah ke penyakit Nipah, teman-teman di puskesmas sudah kami minta untuk waspada dan segera melakukan pelaporan bila menemukan gejala yang mencurigakan," katanya.

Penularan virus Nipah dapat terjadi dari hewan ke manusia maupun antar manusia. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat antara lain mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi, tidak mengonsumsi buah yang rusak atau bekas gigitan hewan, serta memasak nira atau air sadapan kelapa sebelum dikonsumsi.

"Jika buah atau nira diduga terkontaminasi, sebaiknya tidak dikonsumsi. Daging ternak juga harus dimasak hingga matang dan hindari mengkonsumsi hewan yang dicurigai terinfeksi," ucapnya.


Ilustrasi Medcom.id

Solikhin juga mengimbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk, serta memakai masker saat sakit atau berinteraksi dengan orang sakit. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak perlu mendapat perhatian khusus.

Bagi tenaga kesehatan, kewaspadaan standar tetap diterapkan melalui penggunaan alat pelindung diri (APD) sesuai protokol pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan.

"Harapannya, dengan kewaspadaan bersama dan langkah pencegahan yang tepat, virus Nipah tidak sampai menimbulkan kasus di Indonesia, khususnya di Kota Yogyakarta," ujar Solikhin.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)