Ilustrasi tali yang dipakai dalam eksekusi mati. (Anadolu Agency)
Tiongkok Eksekusi Empat Anggota Mafia Online Scam Myanmar
Muhammad Reyhansyah • 2 February 2026 16:01
Beijing: Tiongkok kembali mengeksekusi empat anggota keluarga Bai, salah satu dinasti mafia paling dikenal yang selama bertahun-tahun mengoperasikan pusat-pusat penipuan daring di Myanmar. Media pemerintah melaporkan eksekusi tersebut dilakukan terhadap anggota jaringan kriminal lintas negara yang terlibat dalam berbagai kejahatan serius.
Mengutip BBC, Senin, 2 Februari 2026, keempat terpidana merupakan bagian dari 21 anggota keluarga Bai dan afiliasinya yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan di Provinsi Guangdong. Mereka dijatuhi hukuman atas berbagai tindak pidana, termasuk penipuan, pembunuhan, penganiayaan, serta kejahatan terorganisasi lainnya.
November tahun lalu, pengadilan yang sama telah menjatuhkan hukuman mati kepada lima anggota klan Bai, termasuk pemimpin keluarga tersebut, Bai Suocheng. Namun, Bai Suocheng dilaporkan meninggal dunia akibat sakit setelah vonis dijatuhkan.
Pekan lalu, Tiongkok juga mengeksekusi 11 anggota keluarga Ming, jaringan mafia lain yang terlibat dalam operasi penipuan daring. Langkah ini merupakan bagian dari operasi besar Beijing untuk memberantas kejahatan siber di Asia Tenggara yang telah menjebak ribuan korban, mayoritas warga negara Tiongkok.
Selama bertahun-tahun, keluarga Bai, Ming, dan sejumlah klan kriminal lainnya menguasai kota perbatasan Laukkaing di Myanmar. Di wilayah tersebut, mereka mengelola kasino, kawasan prostitusi, serta pusat-pusat penipuan daring berskala besar.
Di antara klan-klan tersebut, keluarga Bai disebut sebagai yang paling berkuasa. Putra Bai Suocheng sebelumnya mengakui kepada media pemerintah, setelah ditangkap, bahwa klannya merupakan “nomor satu” di kawasan tersebut.
Otoritas Tiongkok menyebut keluarga Bai mengendalikan milisi sendiri dan membangun sedikitnya 41 kompleks yang digunakan untuk aktivitas penipuan siber dan kasino. Di dalam kompleks itu berkembang budaya kekerasan, dengan pemukulan dan penyiksaan yang dilakukan secara rutin terhadap para pekerja.
Pengadilan menyatakan aktivitas kriminal keluarga Bai menyebabkan enam warga negara Tiongkok meninggal dunia, satu orang bunuh diri, serta menimbulkan banyak korban luka.
Runtuhnya Kekaisaran Penipuan Myanmar
Keluarga Bai mulai berkuasa di Laukkaing pada awal 2000-an setelah penguasa perang setempat digulingkan dalam operasi militer yang dipimpin Min Aung Hlaing, yang kini memimpin pemerintahan militer Myanmar. Saat itu, Min Aung Hlaing disebut mencari sekutu lokal yang kooperatif, dan Bai Suocheng—yang kala itu menjabat wakil penguasa perang—dinilai memenuhi kriteria tersebut.Namun, kekaisaran kriminal keluarga-keluarga tersebut runtuh pada 2023. Beijing dilaporkan mulai frustrasi dengan sikap pasif militer Myanmar dalam menangani kejahatan penipuan daring, lalu secara tidak langsung mendukung serangan kelompok bersenjata etnis di wilayah tersebut. Serangan itu menjadi titik balik dalam perang saudara Myanmar.
Perkembangan tersebut berujung pada penangkapan para mafia penipuan yang kemudian diserahkan kepada otoritas Tiongkok. Di dalam negeri, para pelaku dijadikan subjek dokumenter televisi pemerintah yang menegaskan tekad Beijing untuk memberantas jaringan penipuan hingga ke akarnya.
Rangkaian eksekusi terbaru ini dipandang sebagai pesan keras Tiongkok untuk memberikan efek jera terhadap calon pelaku penipuan daring.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan ratusan ribu orang telah diperdagangkan untuk menjalankan operasi penipuan daring di Myanmar dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di antara mereka terdapat ribuan warga Tiongkok, sementara mayoritas korban penipuan yang mengalami kerugian hingga miliaran dolar juga berasal dari Tiongkok.
Baca juga: Tiongkok Eksekusi 11 Anggota Sindikat Online Scam Berbasis di Myanmar