Taliban Targetkan Jet Tempur Pakistan Usai Kabul Diserang

pesawat tempur J-10C Angkatan Udara Pakistan. (Dok. Angkatan Udara Pakistan)

Taliban Targetkan Jet Tempur Pakistan Usai Kabul Diserang

Riza Aslam Khaeron • 1 March 2026 13:34

Kabul: Ledakan disertai rentetan tembakan terdengar di pusat kota Kabul pada Minggu, 1 Maret 2026, ketika pemerintah Taliban menyatakan pasukan Afghanistan menembaki pesawat Pakistan yang kembali memasuki wilayah udara mereka.

Melansir France 24, insiden ini terjadi di tengah eskalasi bentrokan lintas perbatasan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan memanas sejak Kamis, 26 Februari 2026. Koresponden AFP melaporkan adanya suara ledakan tunggal yang disusul oleh berondongan senjata api di ibu kota.

Menanggapi situasi tersebut, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, memberikan keterangan, "Tembakan anti-pesawat diarahkan ke pesawat Pakistan di Kabul."

Ketegangan diplomatik dan militer ini memuncak setelah Afghanistan meluncurkan serangan di zona perbatasan pada hari Kamis, yang segera dibalas oleh Pakistan melalui operasi darat dan udara.

Islamabad mengonfirmasi telah membombardir sejumlah titik strategis di kota-kota besar pada Jumat, 27 Februari 2026, termasuk Kabul dan Kandahar—wilayah yang menjadi basis kekuatan pemimpin tertinggi Afghanistan.

Pihak Afghanistan melayangkan tuduhan bahwa operasi militer Pakistan telah memakan korban jiwa dari kalangan sipil, meski Islamabad belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebu

Hamdullah Fitrat, selaku wakil juru bicara pemerintah Afghanistan, menyebutkan agresi Pakistan sejak Kamis telah merenggut nyawa 30 warga sipil di wilayah timur, tepatnya di Provinsi Khost, Kunar, dan Paktika. Data jumlah korban dari kedua pihak masih sulit untuk dikonfirmasi secara independen.

Di Jalalabad, jurnalis AFP melaporkan suara deru jet tempur dan dua dentuman besar pada Sabtu, 28 Februari 2026, di rute utama yang menghubungkan Kabul dengan perbatasan.

Militer Afghanistan mengeklaim telah menembak jatuh sebuah jet tempur Pakistan dan menahan sang pilot, namun klaim ini dibantah keras oleh Islamabad sebagai pernyataan yang "sepenuhnya tidak benar".

Situasi di Paktika dilaporkan masih diwarnai baku tembak pada hari Sabtu, sementara warga di Khost mulai mengungsi demi menghindari zona pertempuran di dekat perbatasan.

Meski upaya diplomatik tengah diusahakan, hingga kini belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Arab Saudi dan Qatar terus berupaya menjadi mediator, sementara China menyatakan kesiapannya untuk berkoordinasi dengan kedua negara guna meredakan situasi.

Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan dukungannya terhadap posisi Pakistan. Allison Hooker, Wakil Menteri Luar Negeri untuk Urusan Politik, melalui platform X menyatakan dukungan atas "hak Pakistan untuk membela diri dari serangan Taliban" pasca-pertemuan dengan pejabat Pakistan.
 

Baca Juga:
Pakistan-Afghanistan Memanas, Indonesia Pastikan Keselamatan WNI

Islamabad menuding Afghanistan memberikan ruang aman bagi kelompok militan yang menyerang wilayah Pakistan, sebuah tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Taliban.

Beberapa serangan terakhir diklaim oleh kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang aktivitasnya kian meningkat sejak Taliban kembali memegang kendali di Kabul pada 2021.

Ketegangan minggu ini menandai pertama kalinya Pakistan secara terbuka mengarahkan serangan udara ke fasilitas pemerintah Afghanistan, bergeser dari pola sebelumnya yang biasanya menyasar basis militan.

Mosharraf Zaidi, juru bicara Perdana Menteri Pakistan, menyatakan bahwa kelompok bersenjata yang terafiliasi dengan Taliban Pakistan telah menyerang pos keamanan di wilayah barat laut.

"Respons langsung dan efektif Pakistan terhadap agresi terus berlanjut," kata Zaidi pada Jumat, 27 Februari 2026, sembari menyebut hampir 300 tentara dan militan Afghanistan tewas.

Hingga Sabtu, Menteri Informasi Pakistan mengungkapkan 37 titik di wilayah Afghanistan telah dihantam serangan udara. Sebelumnya, Islamabad melaporkan kehilangan 12 personel tentaranya dalam konflik ini.

Sebaliknya, Fitrat mengeklaim pihak Afghanistan telah menewaskan lebih dari 80 tentara Pakistan dan menguasai 27 pos militer. Pihak Kabul secara resmi mencatat 13 personel tentaranya gugur.

Kementerian Pertahanan Afghanistan juga mengakui telah melakukan serangan balasan lewat udara ke wilayah Pakistan dalam dua hari terakhir. Analis militer menduga serangan tersebut dilakukan menggunakan teknologi wahana nirawak (drone).

Pada hari Jumat, Pakistan melabeli eskalasi ini sebagai "perang terbuka" melawan Taliban, sementara pemerintah Afghanistan tetap mengimbau adanya jalur "dialog" untuk mencari solusi damai.

Gelombang kekerasan bulan ini menjadi insiden paling berdarah sejak konflik serupa pada Oktober lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang. Dampak dari perang ini, jalur perbatasan darat kedua negara masih ditutup rapat hingga saat ini.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)