Denmark Sebut Pengerahan Pasukan Tambahan ke Greenland Bukan untuk Provokasi AS

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen. (Anadolu Agency)

Denmark Sebut Pengerahan Pasukan Tambahan ke Greenland Bukan untuk Provokasi AS

Muhammad Reyhansyah • 20 January 2026 14:51

Kopenhagen: Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen pada Senin, 19 Januari 2026, mengatakan terdapat apa yang ia sebut sebagai “kesalahpahaman” di Washington terkait peningkatan kehadiran militer negaranya di Greenland. 

Ia menegaskan, langkah tersebut ditujukan untuk menjawab kekhawatiran keamanan, bukan untuk memprovokasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dilansir dari Anadolu Agency, Selasa, 20 Januari 2026, Rasmussen menyatakan Denmark tetap berkomitmen pada kesepakatan yang dicapai dengan Washington dalam pertemuan di Gedung Putih pekan lalu, termasuk pembentukan kelompok kerja bersama mengenai Greenland.

“Kami akan melakukan itu, dan kemudian kita harus melihat apa yang akan dilakukan pihak Amerika,” ujar Rasmussen kepada media Denmark usai bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper di London.

Menanggapi peningkatan kehadiran militer Denmark di Greenland, Rasmussen mengatakan terdapat “kesalahpahaman” di pihak Amerika Serikat mengenai perkembangan terbaru di wilayah Arktik tersebut.

“Apa yang kami lakukan di Greenland dalam beberapa hari terakhir bukan untuk membangun kekuatan guna memprovokasi presiden Amerika. Ini dilakukan untuk menjawab kekhawatiran yang ia sampaikan,” katanya.

Pesawat yang membawa tentara Denmark dilaporkan tiba di wilayah barat Greenland pada Senin, menyusul pengumuman sebelumnya dari Angkatan Bersenjata Denmark pada hari yang sama.

“Kedaulatan dan keutuhan wilayah negara-negara harus dihormati,” kata Rasmussen, seperti dikutip oleh penyiar publik DR.

Penegasan Kedaulatan Greenland

Dalam wawancara terpisah dengan Sky News, Rasmussen juga menyatakan Denmark dan Greenland telah “menjauhkan investasi Tiongkok” dari pulau Arktik tersebut.

“Kami memiliki garis merah yang tidak bisa dilanggar,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Eropa secara keseluruhan akan merespons ancaman tarif dari Presiden AS, bukan hanya Denmark.

“Anda tidak bisa mengancam untuk mendapatkan kepemilikan Greenland. Anda boleh punya keinginan, visi, atau permintaan, tetapi itu tidak akan pernah tercapai dengan memberi tekanan kepada kami,” kata Rasmussen.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuannya dengan Cooper di London, sebagai bagian dari lawatan ke sejumlah ibu kota Eropa untuk membahas keamanan Arktik di tengah ancaman tarif AS terkait Greenland.

Pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt, dan Rasmussen menggelar pertemuan di Washington.

Usai pertemuan itu, Rasmussen mengatakan terdapat “perbedaan mendasar” karena Washington tetap memiliki ambisi untuk mengambil alih wilayah otonomi Denmark tersebut.

Trump, di sisi lain, mengatakan setelah pertemuan itu bahwa Denmark tidak dapat diandalkan untuk “melindungi diri mereka sendiri” dari apa yang ia sebut sebagai pengaruh Rusia dan Tiongkok yang semakin masuk ke kawasan tersebut.

Pada Sabtu, Trump menyatakan Washington akan memberlakukan tarif 10 persen terhadap barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari. Tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni hingga tercapai kesepakatan mengenai “pembelian sepenuhnya dan total Greenland”.

Menanggapi hal itu, para pemimpin Eropa menolak ancaman tarif tersebut dan menegaskan solidaritas mereka terhadap Denmark.

Baca juga:  Ketegangan Arktik Meningkat, Denmark Kirim Pasukan Tambahan ke Greenland

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)