Makan bergizi gratis. Foto: Ilustrasi Antara
MBG Dinilai Jadi Suplemen Bagi Dunia Pendidikan
Media Indonesia • 24 January 2026 09:17
Jakarta: Program makan bergizi gratis (MBG), dinilai tak membebani dunia pendidikan. MBG justru menjadi suplemen bagi dunia pendidikan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia generasi muda bangsa.
Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB, Ahmad Sulaeman, MS menilai MBG tidak semestinya dipersepsikan sebagai beban. “MBG itu bagian dari pendidikan, juga untuk membangun nasionalisme bagaimana mengentaskan kemiskinan,” ujar Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB, Ahmad Sulaeman, Jakarta, dilansir pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Ahmad memgatakan pentingnya pemenuhan gizi bagi keberlangsungan pendidikan juga telah terbukti secara ilmiah. Menurut Ahmad, gizi harian anak yang terpenuhi berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan kognitif dan prestasi akademik anak.
“Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan asupan gizi seimbang memiliki konsentrasi belajar lebih baik, daya ingat lebih kuat, serta performa akademik yang lebih stabil,” ungkap dia.
Hal senada disampaikan Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch, Iskandar Sitorus. Menurut dia, mempertentangkan antara program pendidikan dan MBG merupakan hal yang keliru.
“Anak tidak akan bisa belajar dengan perut kosong. Negara wajib melihat nutrisi dan pendidikan sebagai satu kesatuan hak konstitusional yang tidak dapat dipisahkan,” ujar dia.
Dia menegaskan pemenuhan gizi merupakan fondasi pendidikan. Berbagai kajian kesehatan dan pendidikan menunjukkan kekurangan nutrisi berdampak langsung pada konsentrasi, daya serap, dan perkembangan kognitif anak.
“Kalau pondasinya rapuh, hasil pendidikannya juga akan rapuh,” kata dia.
Makan bergizi gratis. Foto: Ilustrasi AntaraPraktik pemenuhan gizi harian telah lama diterapkan di sejumlah negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, program makan sekolah seperti School Breakfast Program danNational Lunch Program menjadi bagian dari kebijakan nasional. Sekolah mengambil peran aktif dalam pemenuhan gizi siswa, sehingga anak tidak lagi terbebani persoalan sarapan atau makan siang. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mendukung kesehatan sekaligus kesiapan belajar anak di kelas.
Selain berdampak pada peserta didik, MBG juga dinilai berpotensi memberikan efek pengganda (multiplier effect)terhadap perekonomian. Jika dirancang dengan matang, program ini dapat mendorong keterlibatan UMKM, petani, dan produsen pangan lokal dalam rantai pasok.
(Naviandri)