Situasi Ekonomi Global Tak Menentu, Indonesia Punya Peluang di Sektor Ini

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

Situasi Ekonomi Global Tak Menentu, Indonesia Punya Peluang di Sektor Ini

Eko Nordiansyah • 12 May 2026 08:40

Jakarta: Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan situasi ekonomi global sangat tidak menentu. Ia menyebut dunia saat ini menghadapi banyak tantangan dan faktor atau variabel yang memengaruhi kondisi perusahaan serta perekonomian.

"Bahkan kalau kita membuat skenario saat ini, kita di internal Bank Mandiri Group, kita merasakan skenario yang kita lakukan ini adalah the most complicated scenario yang pernah kita buat,” katanya dalam Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook secara virtual di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 12 Mei 2026.

Melihat kondisi ekonomi global, konflik AS dengan Iran belum menemui titik temu yang berimplikasi terhadap disrupsi di Selat Hormuz yang menjaga risiko pasokan energi tinggi dengan harga minyak bertahan di atas USD100 per barel. Dalam konteks ini, sentimen risk-off menguatkan dolar AS dan menekan aset emerging markets (EM).

Outlook International Monetary Fund (IMF) juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen pada Januari 2026, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan perlambatan perdagangan global.

Kemudian, pasar memproyeksikan Fed Fund Rate (FFR) tak turun sepanjang tahun ini di level 3,75 persen. Probabilitas CME FedWatch menunjukkan 350-375 basis points (bps) dominasi hingga akhir tahun.

Adapun arus inflow ke negara berkembang tertahan dan berpotensi berubah menjadi outflow, seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya risk aversion (penghindaran risiko) global.



(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Risiko yang perlu diwaspadai

Pihaknya menilai risiko yang perlu diwaspadai mencakup disrupsi Selat Hormuz dan eskalasi AS-Iran-Lebanon yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak, dan meningkatnya beban fiskal akibat naiknya subsidi energi.

Kedua, harga energi yang meningkat mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga mengurangi ruang pelonggaran moneter bank sentral emerging market, termasuk Bank Indonesia (BI).

Berikutnya yaitu sentimen risk-off mendorong depresiasi rupiah, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), dan tekanan terhadap bursa saham. Terakhir adalah risiko meningkatnya suku bunga (market rate), serta terbatasnya penerimaan ekspor di tengah tingginya impor.

Peluang bagi Indonesia

Dalam keadaan ini, Indonesia berpeluang memperoleh windfall komoditas ekspor crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel, yang mengalami kenaikan harga, sehingga memberikan sentimen positif terhadap penerimaan negara dan neraca transaksi berjalan.

Relokasi rantai pasok global turut membuka peluang penanaman modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia sebagai pusat manufaktur alternatif. Selain itu, penguatan kebijakan hilirisasi meningkatkan nilai tambah ekspor dengan adanya pergeseran dari raw material ke produk olahan (smelter, katoda, battery grade).

Transisi energi global turut memicu momentum investasi di kendaraan listrik, nikel, dan energi terbarukan, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci ekosistem baterai dan listrik global.

"Jangan lupa walaupun terjadi perang, komitmen transisi energi global ini tetap dilakukan dengan konsisten oleh pemerintah Indonesia," ungkap Andry Asmoro.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)