Deklarasi All Indonesia Jadi Jurus Jitu Antisipasi Hantavirus

Kesehatan/Ilustrasi Medcom.id

Deklarasi All Indonesia Jadi Jurus Jitu Antisipasi Hantavirus

M. Iqbal Al Machmudi • 13 May 2026 17:59

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyusun strategi mengantisipasi kasus hantavirus di Indonesia. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan (SKK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Sumarjaya membeberkan upaya awal, yakni melakukan skrining gejala pelaku perjalanan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, serta deklarasi All Indonesia.

"Skrining melalui All Indonesia terkoneksi dengan imigrasi, cukai hingga Kemenkes. Kemudian kita punya rumah sakit sentinel yang aktif melakukan surveilans," kata Sumarjaya dalam diskusi Denpasar 12 secara daring, Rabu, 13 Mei 2026.

Pihaknya juga melakukan pengamatan binatang pembawa penyakit sentinel leptospirosis, rikhus vektora lepto dan hanta dan pengendalian tikus, terkait hantavirus. Termasuk, penyelidikan epidemiologi.
 


"Ini kita sekarang punya namanya pendidikan untuk Field Epidemiology Training Program (FETP) untuk membantu para-para dinas kesehatan dan puskesmas meningkatkan kapasitasnya di dalam melakukan penyelidikan epidemiologi, dan ini lebih ke lapangan," ujar Sumarjaya.

Sementara itu, dalam upaya penguatan sumber daya Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Edara No. SR.03.01/C/2572/2026 terkait Kewaspadaan Penyakit Virus Hanta.


Ilustrasi kesehatan. Foto: Medcom.id

Tidak hanya itu, penyiapan rumah sakit rujukan di jejaring layanan pengampuan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) dan penyediaan pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit ntavirus.

Saat ini, laboratorium rujukan nasional di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BBLKL) dan Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (BBLBK). Jejaring Laboratorium Kesehatan Masyarakat memiliki kapasitas pemeriksaan laboratorium (BBLKM Jakarta, BBLKM Yogyakarta, dan BBLKM Banjarnegara)

"Reagennya sudah ada di laboratorium kita saat ini di Salatiga, Jakarta, Banjarnegara, dan Yogyakarta kenapa kita lakukan ini karena memang dari 23 kasus banyak di Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatra Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat," pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)