MV Hondius. (via oceanwide-expeditions.com)
Bagaimana Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar? Simak Kronologinya
Riza Aslam Khaeron • 12 May 2026 15:53
Jakarta: Publik baru-baru ini dihebohkan oleh laporan kasus hantavirus yang melanda kapal pesiar asal Belanda, MV Hondius. Kabar mengenai wabah ini mulai mencuat di berbagai media sejak Minggu, 3 Mei 2026. Hantavirus sendiri merupakan jenis virus zoonosis—penyakit yang menular dari hewan ke manusia—yang umumnya disebarkan oleh hewan pengerat seperti tikus.
Hingga saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi total sembilan kasus dengan tiga angka kematian. Evakuasi seluruh penumpang MV Hondius pun telah dilakukan, memicu kekhawatiran publik akan potensi ancaman pandemi baru, tepat enam tahun setelah kemunculan perdana COVID-19.
Lantas, dari mana sebenarnya asal-usul virus ini dan bagaimana pola penyebarannya? Berikut ulasan lengkapnya.
Patient Zero dan Awal Mula Wabah di Kapal Pesiar
.jpg)
Foto: Leo Schilperoord/Facebook
Wabah hantavirus kapal pesiar ini diduga bermula pada 27 Maret 2026 melalui pasangan suami istri asal Belanda, Leo Schilperoord (70) dan istrinya, Mirjam Schilperoord (69). Leo kemudian diidentifikasi sebagai patient zero dalam kluster wabah ini. Saat itu, keduanya tengah menjalani petualangan panjang selama lima bulan melintasi Amerika Selatan.
Mengutip The New York Post (NYP), pasangan ini berasal dari Haulerwijk, sebuah desa kecil berpenduduk sekitar 3.000 jiwa di Belanda, keduanya merupakan pengamat burung.
Jejak karier mereka terhadap ornitologi telah dimulai sejak lama; mereka pernah menulis studi tentang angsa kaki merah di majalah ornitologi Belanda, Het Vogeljaar, pada tahun 1984. Petualangan mereka pun telah menjangkau berbagai belahan dunia, termasuk tur pengamatan burung pribadi di Sri Lanka pada 2013, di mana mereka berhasil menemukan burung hantu langka, Serendib Scops Owl.
Leo dan Mirjam pertama kali mendarat di Argentina pada 27 November 2025. Sebelum kembali ke Argentina pada 27 Maret 2026
Terinfeksi di Argentina

Pembuangan sampah di kota Ushuaia. (Matías Zibell / BBC News Mundo)
Sekembalinya ke Argentina, mereka mengunjungi sebuah tempat pembuangan sampah yang terletak sekitar enam kilometer di luar Kota Ushuaia. Meskipun kawasan ini dihindari warga lokal karena kondisinya yang kumuh, tempat tersebut merupakan magnet bagi para pengamat burung internasional.
“Sangat umum bagi pengamat burung untuk mengunjungi tempat pembuangan sampah karena di sana ada banyak spesies burung,” ungkap Gastón Bretti, seorang fotografer dan pemandu lokal kepada Ansa Latina, sebagaimana dikutip oleh NYP.
Tujuan mereka adalah mencari white-throated caracara (Daptrius albogularis) atau burung Darwin's caracara — spesies langka yang pertama kali diidentifikasi oleh Charles Darwin.
Otoritas kesehatan Argentina menduga bahwa saat berada di tempat pembuangan sampah tersebut, pasangan Schilperoord menghirup partikel aerosol dari kotoran tikus Oligoryzomys longicaudatus. Tikus ini merupakan pembawa utama hantavirus strain Andes.
Berbeda dengan varian lainnya, strain Andes adalah satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia.
Penyebaran di Atas MV Hondius

Kapal Pesiar MV Hondius. Foto: oceanwide-expeditions.com
Empat hari setelah kunjungan ke Ushuaia, tepatnya pada 1 April, pasangan ini naik ke kapal pesiar MV Hondius bersama lebih dari 100 penumpang lainnya, yang mayoritas terdiri dari ilmuwan dan sesama pengamat burung. Pada 6 April, saat kapal tengah berlayar, Leo mulai menunjukkan gejala serius berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri perut, dan diare.
Kondisinya memburuk dengan sangat cepat hingga ia meninggal dunia di atas kapal lima hari kemudian, pada 11 April. Hasil pemeriksaan kemudian mengonfirmasi bahwa Leo terinfeksi hantavirus.
Setelah kematian suaminya, Mirjam turun dari kapal pada 24 April di Pulau Saint Helena, Atlantik, untuk mendampingi jenazah Leo.
Ia kemudian terbang menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dengan rencana melanjutkan perjalanan pulang ke Belanda menggunakan maskapai KLM. Namun, Mirjam tidak pernah sampai ke rumah. Kondisi kesehatannya merosot tajam hingga awak kabin menyatakan ia terlalu kritis untuk melanjutkan penerbangan.
Mirjam terpaksa dievakuasi di bandara dan meninggal dunia keesokan harinya. Infeksi hantavirus dalam kasusnya secara resmi dikonfirmasi pada 4 Mei 2026.
| Baca Juga: Hantavirus, Patogen Langka Namun Mematikan |
Situasi Terkini
Hingga saat ini, WHO telah mencatat sembilan kasus terkonfirmasi hantavirus yang terhubung dengan kluster wabah ini, dengan total tiga korban jiwa. Para penderita berasal dari enam negara berbeda, menunjukkan betapa cepatnya penyebaran terjadi di dalam lingkungan kapal pesiar.Sebagai langkah antisipasi, sebanyak 94 penumpang dan awak kapal dari 19 negara telah dievakuasi melalui penerbangan khusus setelah MV Hondius berlabuh di Kepulauan Canary, Spanyol. Meski demikian, WHO menegaskan bahwa risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan masih dikategorikan rendah dan situasi ini tidak dapat disandingkan dengan skala pandemi COVID-19.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com