Analisis Iklim Muda Stasiun Klimatologi Provinsi Papua Barat Wendel Jan menunjukkan peta sebaran titik panas saat ditemui awak media di Manokwari, Kamis, 27 Agustus 2026. ANTARA/Fransiskus Salu Weking
Sebaran Titik Panas Papua Barat Turun Selama Tiga Hari Terakhir
Silvana Febiari • 27 August 2026 15:51
Manokwari: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebaran titik panas di Provinsi Papua Barat menurun. Data tersebut berdasarkan hasil pengamatan selama tiga hari terakhir, 25–27 Agustus 2026.
Analisis Iklim Muda Stasiun Klimatologi Papua Barat Wendel Jan mengatakan penurunan titik panas (hotspot) tidak mengindikasikan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga akan berkurang.
"Karena kondisi kemarau saat ini diperparah dengan adanya El Nino, jadi bisa saja akan muncul lagi titik panas di kemudian hari," ujar Wendel, dilansir dari Antara, Kamis, 27 Agustus 2026.
Dia menjelaskan, pada 25 Agustus 2026 terdeteksi 399 titik panas di Papua Barat. Sebanyak 14 titik berkategori rendah, 348 titik sedang, dan 37 titik tinggi.
Jumlah titik panas kemudian turun menjadi 224 titik pada 26 Agustus 2026. Rinciannya, 13 titik berkategori rendah, 203 titik sedang, dan delapan titik tinggi.
Pada 27 Agustus 2026, sebaran titik panas yang terdeteksi turun cukup signifikan menjadi 68 titik (58 titik kategori sedang dan 10 titik kategori tinggi).
Sebagian besar titik panas tersebut terdeteksi di Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak. Kondisi ini seiring dengan peningkatan hari tanpa hujan yang telah berlangsung sekitar 55 hari.
BMKG sejak awal tahun memprediksi fenomena El Nino yang dapat memicu kemarau ekstrem dan kekeringan berkepanjangan. Saat ini, indeks El Nino berada pada kategori kuat menuju sangat kuat.
"Puncak El Nino diprediksi sekitar September dan Oktober tahun ini dan berlangsung hingga awal tahun 2027," ujarnya.

Upaya pemadaman Karhutla di Kabupaten Nabire, Sabtu, 22 Agustus 2026. ANTARA/Ali Nur Ichsan
Berdasarkan hasil analisis, seluruh wilayah Papua Barat berada dalam kondisi defisit curah hujan, terutama di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Manokwari Selatan yang berdampak pada peningkatan risiko karhutla.
BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka atau memperluas lahan perkebunan dengan cara dibakar. Kondisi kemarau dapat membuat api cepat menyebar dan berpotensi memicu kebakaran.
"Kami prediksi akhir tahun ini curah hujan mulai membaik, karena terjadi pergantian arah angin dari timur ke barat membawa kandungan uap," kata Wendel.