Stok Beras RI Lampaui 5 Juta Ton, Tahan Tekanan Krisis Global

Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Foto: Metrotvnews.com/Annisa Ayu Artanti.

Stok Beras RI Lampaui 5 Juta Ton, Tahan Tekanan Krisis Global

Ade Hapsari Lestarini • 4 May 2026 12:29

Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan ketahanan pangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi kuat, meskipun dihadapkan pada ancaman El Niño dan ketidakpastian global.

Cadangan beras pemerintah telah melampaui lima juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Angka ini menjadi bantalan strategis untuk menjamin ketersediaan pangan nasional dalam berbagai skenario tekanan, baik akibat gangguan iklim maupun gejolak rantai pasokan global.

Capaian tersebut merupakan hasil dari kebijakan produksi yang konsisten, termasuk program pompanisasi, perluasan areal tanam, serta penguatan penyerapan gabah oleh Bulog.

Dengan cadangan sebesar ini, Indonesia tidak hanya mampu menjaga stabilitas harga pangan domestik, tetapi juga memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan negara-negara lain yang tengah menghadapi tekanan akibat krisis pupuk dan anomali cuaca.

"Inilah bukti nyata dari ketepatan visi dan keberanian Presiden Prabowo dalam mengambil keputusan strategis demi kepentingan petani nasional," tegas Mentan Amran, dalam keterangan tertulis, Senin, 4 Mei 2026.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional di tengah ketidakpastian global. Melalui kebijakan yang terukur dan respons yang cepat, petani Indonesia diharapkan tetap mampu berproduksi dan menjadi pilar utama ketahanan pangan nasional.


Ilustrasi gedung beras. Foto: dok MI.
 

 

Harga pupuk turun


Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis dengan menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen guna menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Kebijakan ini diambil di tengah lonjakan harga pupuk global akibat gangguan pasokan dunia.

Amran menegaskan, kebijakan tersebut mencerminkan kemampuan Presiden dalam membaca situasi global, khususnya terkait potensi krisis pupuk yang mulai menekan banyak negara.

"Presiden Prabowo sejak awal sudah melihat dunia menuju periode ketidakstabilan. Beliau memerintahkan kami untuk tidak menunggu krisis, tetapi mengantisipasinya melalui kebijakan," ujar Mentan Amran.

Kebijakan ini hadir pada momen krusial. Sejak Februari 2026, konflik di Timur Tengah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia. Di saat yang sama, Tiongkok menghentikan ekspor pupuk nitrogen utama. Dampaknya, harga urea global melonjak lebih dari 40 persen hanya dalam hitungan minggu.

Negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada impor pupuk pun menghadapi ancaman krisis produksi pangan. Penurunan harga sebesar 20 persen ini mencakup seluruh jenis pupuk bersubsidi yang digunakan petani, termasuk urea, NPK, dan ZA.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)