Desa Sembungan, Wonosobo, Jawa Tengah. Instagram: @wonosobohitz
Suhu Bisa Tembus Nol Derajat di Malam Hari, Ini Desa Tertinggi di Pulau Jawa
Whisnu Mardiansyah • 2 January 2026 14:38
Wonosobo: Di tengah hamparan Pulau Jawa yang didominasi dataran rendah, terdapat sebuah desa yang menjulang tinggi. Desa Sembungan, di kawasan Dataran Tinggi Dieng, dikenal luas sebagai permukiman tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di sini, kehidupan warga berpadu dengan hawa dingin ekstrem, kabut tebal, dan pemandangan pegunungan vulkanik.
Profil Desa Sembungan
Desa ini secara administratif terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dan merupakan bagian dari kawasan vulkanik aktif Dieng. Ketinggian ekstremnya membentuk iklim mikro yang unik, dengan suhu malam hari bisa menyentuh 0 derajat celsius dan memunculkan embun es (bun upas) pada musim kemarau.
Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai petani sayuran dataran tinggi, seperti kentang, kol, dan carica. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata turut berkembang menjadi sumber penghasilan tambahan.
Salah satu ikon alam Desa Sembungan adalah Telaga Cebong, danau kecil berbentuk menyerupai kecebong yang terletak di kaki Bukit Sikunir. Telaga ini berfungsi sebagai sumber air sekaligus objek wisata andalan desa.
Dari desa ini, wisatawan dapat mengakses Bukit Sikunir, salah satu titik terbaik di Indonesia untuk menyaksikan matahari terbit (sunrise). Fenomena golden sunrise dari puncak Sikunir, dengan latar belakang gunung-gunung Jawa Tengah, telah mendorong pertumbuhan homestay dan jasa pemandu lokal.
Akses Menuju Desa Sembungan
Meski berada di ketinggian, desa ini relatif terjangkau. Rute utama adalah melalui Kota Wonosobo dengan jarak tempuh sekitar 1-1,5 jam (±25-30 km) melewati jalan beraspal yang berkelok. Akses juga tersedia dari Yogyakarta (±4-5 jam) dan Semarang (±3,5-4 jam). Transportasi umum tersedia hingga kawasan Dieng, dilanjutkan dengan angkutan setempat.
Hidup di ketinggian membawa sejumlah tantangan, seperti cuaca ekstrem, risiko longsor, dan keterbatasan akses layanan kesehatan. Kerusakan hasil pertanian akibat embun beku juga menjadi ancaman.
Namun, masyarakat Sembungan dikenal tangguh. Mereka beradaptasi dengan pola tanam musiman, membangun rumah tahan dingin, dan menjaga solidaritas sosial yang kuat. Desa Sembungan tidak hanya sekadar titik geografis tertinggi, tetapi juga simbol ketangguhan hidup manusia dalam menghadapi lingkungan yang ekstrem.