Mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat turun dari helikopter usai diculik Amerika Serikat. Foto: The New York Times
Maduro dan Istri Mengaku Tidak Bersalah atas Dakwaan Penyiksaan Warga AS
Muhammad Reyhansyah • 16 October 2026 11:15
New York: Mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, menyatakan tidak bersalah atas dakwaan baru terkait penyiksaan yang diajukan jaksa Amerika Serikat (AS).
Keduanya hadir di pengadilan New York, Kamis, 15 Oktober 2026, setelah ditahan di AS sejak penangkapan mereka dalam operasi militer di Caracas pada Januari.
Jaksa menuduh Maduro dan Flores bersekongkol melakukan berbagai tindakan penyiksaan terhadap para korban di tempat penahanan Venezuela, termasuk warga negara AS. Tindakan yang disebut dalam dakwaan meliputi penyiksaan dengan metode waterboarding, pemerkosaan, dan pemukulan.
Ketika hakim menanyakan tanggapannya terhadap dokumen dakwaan, pria berusia 63 tahun itu menjawab, "Saya menolak seluruh isi dokumen ini."
Flores, yang mengenakan pakaian tahanan berwarna cokelat seperti Maduro, juga membantah tuduhan tersebut.
"Saya sepenuhnya tidak bersalah, saya tidak bersalah," katanya, dikutip dari Channel News Asia.
Jaksa Uraikan Dugaan Penyiksaan
Menurut jaksa, pasangan tersebut menggunakan penyiksaan untuk "mengintimidasi, melecehkan, dan melumpuhkan lawan-lawan mereka, termasuk melalui penculikan".Dokumen dakwaan menyebut Maduro memimpin sistem represi dan penyiksaan di Venezuela, sedangkan Flores membantu mengembangkan sistem tersebut.
Salah satu kasus yang diuraikan terjadi pada 2022. Saat itu, otoritas Venezuela diduga menyiksa seorang warga AS yang dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Maduro.
Berkas pengadilan menyebut penyiksaan terhadap korban mencakup sengatan listrik pada lengan, kaki, dan alat kelamin; tindakan yang menyebabkan sesak napas; pemukulan; pembatasan makanan dan air; serta suntikan paksa suatu zat yang menyebabkan korban mengalami kejang.
Selama masa kepresidenan Maduro pada 2013–2026, berbagai kelompok hak asasi manusia secara luas menuduhnya menggunakan represi politik untuk mempertahankan kekuasaan.
Ajukan Kekebalan Hukum
Maduro dan Flores sebelumnya telah menghadapi dakwaan perdagangan narkoba dan kepemilikan senjata api di AS setelah ditangkap dari kompleks kediaman mereka di Caracas dalam operasi militer AS.Jaksa AS menuduh Maduro menggunakan kekuasaan negara untuk melindungi dan mendorong penyelundupan narkoba ilegal. Ia juga dituduh bersekutu dengan kartel untuk mengirimkan berton-ton kokain ke Amerika Serikat.
Keduanya ditahan di penjara Brooklyn dan dijadwalkan menjalani persidangan atas perkara tersebut di New York pada Juni mendatang.
Maduro dan Flores telah mengajukan permohonan agar dakwaan terhadap mereka dibatalkan. Mereka beralasan memiliki kekebalan hukum sebagai presiden dan ibu negara dari negara berdaulat.
Pemerintahan Venezuela Beralih
Sejak penangkapan Maduro, Wakil Presiden Delcy Rodriguez memimpin Venezuela sebagai pemimpin sementara di tengah tekanan kuat dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump.Rodriguez mendorong reformasi untuk membuka sektor minyak Venezuela bagi investasi internasional. Ia juga menandatangani kesepakatan besar yang memberikan AS kendali atas sebagian besar cadangan minyak negara tersebut.
Pada bulan ini, seorang hakim AS menolak permohonan Flores untuk dipindahkan dari penjara ke tahanan rumah pribadi di New York agar dapat menangani masalah kesehatannya.
Sebelumnya, menantu Flores mengatakan kepada AFP bahwa Flores mengalami kondisi jantung yang disebut sebagai prolapsed. Dalam kasus yang jarang terjadi dan tergolong parah, kondisi tersebut dapat menyebabkan gagal jantung.