Ketekunan dan Pendampingan Usaha Dinilai Bawa Manfaat Lebih Luas

Ilustrasi. Foto: Unsplash.com/Christin Hume.

Ketekunan dan Pendampingan Usaha Dinilai Bawa Manfaat Lebih Luas

Fachri Audhia Hafiez • 29 September 2026 21:20

Jakarta: Keberhasilan usaha dinilai tidak hanya ditentukan oleh besaran modal. Ketekunan dan pendampingan yang berkelanjutan disebut ikut berkontribusi.

"Ketekunan dan kerja keras yang diiringi dengan pendampingan mampu membawa manfaat yang lebih luas dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan," kata Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Kindaris, melalui keterangan tertulis, Selasa, 29 September 2026.
 


Kisah tersebut datang dari Iga Analusya, 32, pengusaha kerajinan Farilla Craft asal pesisir Padang, Sumatra Barat. Bagi Iga, bergabung dengan PNM Mekaar bukan sekadar mendapatkan akses permodalan, melainkan juga kesempatan untuk belajar, berinovasi, dan memberdayakan warga sekitar.

Farilla Craft lahir dari kejelian Iga memanfaatkan limbah sabut kelapa yang menumpuk di pesisir pantai. Ia mengolah limbah tersebut menjadi berbagai produk kerajinan bernilai jual tinggi, seperti tas, dompet, pot, hingga dekorasi bernuansa natural. Ide ini bermula dari pelatihan pengolahan sabut kelapa yang diikutinya pada 2021.

“Kita lihat limbah sabut kelapa itu tidak dimanfaatkan, padahal potensinya besar,” ujar Iga.

Usaha yang dirintis sebelum menikah ini berkembang pesat setelah Iga menjadi nasabah PNM Mekaar pada akhir 2023. Usaha ini juga menggerakkan ekonomi lokal dengan menyerap 15 hingga 20 pengrajin yang didominasi ibu rumah tangga di wilayah pesisir.

Selain permodalan, Iga merasakan dampak besar dari program pendampingan PNM. Keikutsertaannya dalam program Mekaarpreneur 2026 yang mengantarkannya masuk jajaran 120 besar membuka wawasannya terkait pengelolaan bisnis berbasis teknologi serta strategi pemasaran digital.

“Kalau jadi orang biasa mungkin PNM itu ya cuma untuk pinjaman saja. Tapi setelah kita ada di dalamnya, kita jadi lihat ada hal lain yang jauh lebih bermanfaat,” tutur Iga.


Iga Analusya, 32, pengusaha kerajinan Farilla Craft asal pesisir Padang, Sumatra Barat. Foto: Dok. Istimewa.

Wawasan tersebut mendorong Iga terus berinovasi mengikuti tren pasar generasi muda tanpa menghilangkan identitas tradisional Farilla Craft. Kunjungan studi banding dari sejumlah mahasiswa juga menjadi sumber inspirasi baginya dalam mengemas produk secara lebih modern dan eksklusif.

Ke depan, Iga berencana memperluas galeri usahanya dan merangkul lebih banyak anak putus sekolah serta ibu rumah tangga di wilayah pesisir Padang.

(Fachri Audhia Hafiez)