Protes Pelajar Meluas di Prancis, PM Gelar Rapat Kabinet Krisis

Protes pelajar di Prancis yang berujung rusuh. Foto: EPA

Protes Pelajar Meluas di Prancis, PM Gelar Rapat Kabinet Krisis

Muhammad Reyhansyah • 2 October 2026 14:52

Paris: Protes pelajar sekolah menengah di Prancis yang dipicu keluhan mengenai jam belajar panjang, kekurangan guru, dan kondisi fasilitas sekolah berkembang menjadi aksi kekerasan. 

Pemerintah Prancis memperingatkan situasi tersebut telah berubah menjadi “kekerasan perkotaan”.

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menggelar rapat kabinet krisis pada Kamis, 1 Oktober 2026 dan meminta para menteri membatalkan rencana perjalanan untuk menangani demonstrasi yang bermula di kawasan Paris pekan lalu sebelum meluas ke berbagai wilayah negara tersebut.

“Eskalasi kekerasan membuat keberlangsungan pendidikan publik ‘hampir mustahil’ dipertahankan sekaligus membahayakan staf dan siswa,” kata kantor Lecornu, dikutip dari The Guardian.

Sejumlah sekolah juga akan beralih ke pembelajaran daring untuk melindungi guru dan pelajar. Menteri Pendidikan Édouard Geffray dijadwalkan bertemu dengan perwakilan pelajar pada Jumat.

Kepolisian mengatakan sekitar 900 demonstrasi, blokade, dan insiden terkait berlangsung di luar sekolah menengah di berbagai wilayah Prancis. Lebih dari 160 sekolah ditutup akibat aksi tersebut.

Akses ke sekitar 30 kampus universitas juga diblokir pada Kamis, termasuk di Paris dan Marseille.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan hampir 3.000 pelajar sekolah menengah berusia 15 hingga 18 tahun telah ditahan sejak protes dimulai. Sebanyak 1.949 pelajar ditahan pada Kamis saja.

Lebih dari 300 polisi serta puluhan petugas pemadam kebakaran, guru, dan pelajar dilaporkan terluka.

Keluhan para pelajar mencakup jadwal belajar yang terlalu padat, kelas yang penuh, kekurangan guru, serta suhu ruang kelas yang tidak tertahankan ketika gelombang panas melanda awal tahun ini. Polisi antihuru-hara dikerahkan untuk menghadapi demonstrasi yang semakin keras.

Sebagian besar luka dilaporkan berasal dari benda yang dilemparkan, tetapi terdapat pula cedera akibat proyektil pengendali massa yang ditembakkan polisi.

Kementerian Dalam Negeri kemudian memerintahkan penyelidikan internal terhadap kepolisian setelah muncul tuduhan penggunaan kekuatan berlebihan dan tindakan brutal terhadap tiga pelajar.

Sekolah dan Fasilitas Rusak

Tempat sampah dibakar di luar sejumlah sekolah dan upaya pembakaran yang lebih serius dilaporkan terjadi di dalam beberapa gedung.

Kerusakan akibat kebakaran di sebuah sekolah di Nantes, Prancis barat laut, sangat parah sehingga sekolah tersebut akan ditutup selama sebulan, menurut otoritas setempat.

Di Caen, seorang pelajar berusia 16 tahun bernama Maelle mengatakan dirinya berharap mereka yang membakar tempat sampah menyampaikan protes “dengan kata-kata”.

Para pelajar, menurutnya, berdemonstrasi “menentang pemerintah yang tidak berinvestasi pada pemanas, pendingin ruangan, atau gaji guru”.

Di Strasbourg, Prancis timur laut, layanan trem sempat dihentikan untuk “membatasi pergerakan perusuh dan demonstran”, menurut pejabat setempat. Penghentian dilakukan setelah pelajar yang berunjuk rasa memblokir jalur trem menggunakan pembatas pengendali massa.

Seorang pelajar Strasbourg berusia 17 tahun mengatakan kondisi sekolah mereka juga menjadi alasan aksi.

“Ada 35 orang dalam satu kelas. Toiletnya tidak cukup, dan ada kebocoran air di beberapa ruangan. Gedungnya sudah rusak, kafetarianya terlalu kecil. Tidak ada anggaran, tidak ada sumber daya,” ujarnya.

Pembakaran tempat sampah juga dilaporkan terjadi di Toulouse. Di Lille, sejumlah anak muda yang mengenakan hoodie hitam merusak halte bus.

Di Marseille, terdapat upaya membakar dua sekolah. Dalam salah satu insiden, seorang guru disiram bensin.

Guru Ikut Lindungi Pelajar

Sejumlah guru dan kepala sekolah melaporkan mendapat ancaman fisik dan terkadang diserang. Namun, sebagian guru justru mendukung aksi para pelajar.

Juliette Estiville, guru bahasa Spanyol di sebuah sekolah menengah di Paris, mengatakan dirinya kecewa dengan respons polisi.

“Saya sebenarnya di sini hanya untuk memberikan perlindungan, untuk menjadi penghalang antara polisi dan para siswa,” katanya.

“Hari ini berjalan baik, semuanya berjalan baik, tetapi saya pikir para guru yang datang ke blokade benar-benar ada di sana untuk melindungi anak-anak muda kami,” tambahnya.

Pemerintah Tuduh LFI

Pemerintah menuduh partai kiri La France Insoumise (LFI) mendorong aksi protes tersebut.

Sejumlah anggota parlemen dan wali kota dari LFI, termasuk Wali Kota Saint-Denis, wilayah pinggiran Paris, Bally Bagayoko, mendapat sambutan dari massa demonstran.

Kandidat LFI untuk pemilihan presiden 2027, Jean-Luc Mélenchon, mengatakan partainya mendukung “metode perjuangan tanpa kekerasan”.

Ia menambahkan bahwa kekhawatiran terbesarnya adalah “tingkat kekerasan polisi yang tidak dapat ditoleransi terhadap anak-anak muda ini”.

(Fajar Nugraha)