Trump Tidak Masalah jika Kim Jong-Un Miliki Senjata Nuklir

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Foto: The New York Times

Trump Tidak Masalah jika Kim Jong-Un Miliki Senjata Nuklir

Fajar Nugraha • 30 September 2026 20:05

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menepis kekhawatiran mengenai program nuklir Korea Utara yang kontroversial, dengan mengedepankan hubungan akrab yang diklaimnya terjalin dengan Kim Jong-Un.

Presiden Amerika Serikat itu ditanya mengapa Iran tidak diperbolehkan mengembangkan senjata nuklir, sementara Korea Utara sudah memilikinya dan terus memperluas persenjataannya.

Trump menanggapi dengan menyalahkan pendahulunya, Joe Biden, karena tidak menindaklanjuti masalah tersebut dengan Korea Utara, serta mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya orang di dunia yang disukai Kim.

"Karena saat itu presidennya berbeda," ujar Trump, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu 30 September 2026.

"Mereka bisa saja menghentikannya. Dia kebetulan adalah teman saya. Kim Jong-Un, dia teman saya. Dia menyukai Trump,” imbuh Trump.

Trump menambahkan bahwa Pyongyang memiliki kapasitas nuklir yang "cukup besar".

"Dia tidak menyukai banyak orang lain. Saya hampir menjadi satu-satunya orang di seluruh dunia yang dia sukai, dan saya menyukainya," kata presiden tersebut, merujuk pada Kim.

"Selama saya masih ada, dia akan baik-baik saja. Anda tahu mengapa? Karena dia menghormati saya dan menyukai saya,” imbuhnya.

"Saya mendapat banyak kecaman saat mengatakan hal itu. Orang-orang bilang itu keterlaluan,” menurut Trump.

Pujian Trump terhadap Kim muncul sehari setelah pemimpin Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengklaim bahwa Korea Utara sedang bersiap mengirimkan tambahan 10.000 tentara untuk membantu perang Rusia melawan negaranya. Ia mengatakan Pyongyang telah mengerahkan 8.000 tentara untuk bertempur di pihak Rusia.

Keinginan Trump untuk mengadakan pertemuan puncak (KTT) lagi dengan Kim bukanlah rahasia. Ia berulang kali mengatakan bahwa ia "akan" bertemu dengan pemimpin Korea Utara tersebut sebelum akhir tahun ini, meskipun belum ada perencanaan yang sedang berjalan.

Menurut laporan media Amerika yang mengutip sumber anonim, Trump secara pribadi telah mendesak para stafnya untuk mengatur pertemuan dengan Kim saat ia melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk menghadiri pertemuan APEC akhir tahun ini.

Trump baru-baru ini membatasi latihan militer gabungan Ulchi Freedom Shield dengan Korea Selatan. Ia mengkritik latihan militer bersama selama 11 hari tersebut sebagai tindakan yang "tidak pantas dan bermusuhan" terhadap Korea Utara serta membebani biaya bagi AS, sebuah langkah yang mengejutkan sekutu-sekutunya.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump menjadi presiden AS pertama yang sedang menjabat yang bertemu dengan Kim pada tahun 2018. Mereka bertemu dua kali lagi sebelum upaya diplomasi tersebut gagal pada tahun 2019.

Sejak saat itu, Trump kerap membanggakan "surat-surat cinta" yang diklaimnya telah ia terima dari pemimpin Korea Utara tersebut.

Korea Utara kemudian menjalin aliansi pertahanan strategis dengan Rusia; melalui aliansi ini, Pyongyang memperluas persenjataan konvensionalnya dan membantu Vladimir Putin dalam perang melawan Ukraina dengan mengirimkan pasukan serta persenjataan. Pyongyang juga telah mempererat hubungan dengan Tiongkok.

Selama kurun waktu tersebut, Korea Utara juga telah meningkatkan kemampuan militernya. Negara itu telah menguji coba bom nuklir dalam enam kesempatan terpisah dan memamerkan kemampuan untuk meluncurkan senjata tersebut menggunakan rudal jarak jauh.

Pyongyang tidak menanggapi secara positif langkah-langkah pendekatan yang dilakukan Trump.

Setelah presiden AS tersebut mengurangi skala latihan militer bersama Korea Selatan, saudara perempuan Kim yang berpengaruh menyatakan bahwa jika pihak Amerika menganggap langkah itu sebagai "semacam tindakan niat baik", mereka "tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka inginkan".

Kim Yo-jong juga menepis klaim Trump bahwa ia sedang berkomunikasi dengan Kim, seraya menyatakan bahwa ia "sama sekali tidak mengetahui" adanya kontak semacam itu. Kendati demikian, ia menyebutkan bahwa Kim masih menyimpan "kenangan dan perasaan pribadi yang hangat" terhadap Trump, serta bahwa hubungan antara kedua pemimpin tersebut tetap "sangat baik".

(Fajar Nugraha)